TRENDING
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2021

SUPERWIFE (Buku Antologi)

   

 


    Assalamu'alaikum kawan tersayang, mari kuperkenalkan dengan anak keduaku. Sebelumnya aku ingin memberitahukan pada kalian, bahwa anak keduaku lahir tanpa rencana, hanya niat saja untuk membuatnya. terlahir di tengah hiruk pikuk keraguan dalam hati, apakah bisa aku melewati segala prosesnya tanpa rasa sakit, dan kecewa. Perlu kawan ketahui, bahwa kelahirannya adalah anugerah, dan berkah tersendiri buatku, kelahirannya membawa kembali diriku yang lama hilang, berkelana entah kemana.

            Aku bersyukur kepada mereka yang telah membantuku melewati semua proses, segala motivasi yang selalu datang dari kekasihku, tanpa ridhonya mungkin semuanya tidak akan terjadi, karena ridhonya sama dengan ridho Yang Maha Kuasa.

            Baik, tanpa butuh satu paragraf lagi aku perkenalkan, dan persembahkan anak keduaku, karya keduaku, masih dengan genre non fiksi, dan masih bersama menulis dalam tim (antologi), membagi kisah nano-nano dari para istri. Rasa nano-nao yang di kemas semenarik mungkin, membawa pembaca untuk terus membaca, merasakan kehadiran para penulis dalam setiap kisahnya, karena kisah mereka bisa jadi adalah kisahmu juga.

            Superwife hadir membawa kehangatan untuk para wanita, calon istri, istri dan bahkan calon ayah dan para ayah, untuk melihat dari berbagai sisi mengenai kehidupan wanita, setelah berstatus istri. Saat disayangkan, nyatanya tidak akan pembaca temukan tips pasti dalam buku ini, hanya kisah-kisah yang membawa inspirasi dan motivasi untuk melihat dunia istri yang semakin luas.

            Well, penasaran bagaimana isinya? Miliki segera SUPERWIFE Jilid 2, karya Tim Nulisyuk Batch 62.

           

 


Kamis, 14 Januari 2021

Bahan Puisi Lomba Baca Puisi HTR 2021

 


Assalamu'alaikum...

Salam Puisi!


Bismillah, jadi Bunda Helvytianarosa sedang ngadain event lomba puisi lagi nih, tapi puisinya yang sudah dipilih sama Bunda. Kapan ya terakhir baca puisi? Saat kuliah S1 dulu deh kayaknya itu juga semester 1-2 saj, duh kangennya kalau sudah baca semua puisi pilihan Buda rasanya jadi kembali ke masa putih abu-abu dulu.

Puisi puisi dibawah ini nggak berat untuk dibawakan, sangat mudah dipahami tapi dengan bahasa yang elegan bagus banget Masya Allah. Jangan lupa ikutan yah

 TANAH AIRKU PUISI
  
 Aku telah memilih puisi 
 sebagai tanah air
 tempat segala peristiwa 
 berbaris sebagai diksi
 tempat ragam masalah 
 gemakan rimarima
  
 Aku telah memilih puisi
 sebagai tanah air
 tempat menanam rindu
 serta luka paling raya
 tempat mengabadikan keindahan
 dan ketidakpastian
  
 Aku telah memilih puisi 
 sebagai tanah air
 tempat mata batin setia menyala
 sampai ke relungmu
  
 ( Depok, 2 April 2013)
  
  
  
 SELAMAT PAGI, KAMU
  
 Pada sebuah buku yang berbicara
 tentang masa depan, 
 aku melihat wajahmu menjelma pagi 
 yang terbit di tiap halaman 
 bersama asaku
  
 Aku dan kamu 
 telah dipersaudarakan oleh huruf dan kata
 paragraf juga bait
 kalimat-kalimat yang kadang 
 terlalu rumit untuk kita cerna
 tapi bermukim di batin
  
 Semangat pagi kamu 
 Yang terbit dan merekah dari sudut hati, 
 yang tersenyum serta menari 
 di sela sela imaji
 kamu menyelinap di jemari 
 sebagai sepi yang selalu ditangkap puisi
  
 Selamat pagi kamu yang menari 
 dan menanam cinta bersama Rumi 
 yang tak pernah percaya pada ilusi
 dan janji janji para politisi
  
 Setiap kali matahari terbit 
 berjanjilah pada diri 
 untuk tak membiarkan kebajikan 
 dikalahkan begitu saja di depan matamu
 Pada setiap matahari terbit 
 berjanjilah untuk bangkit 
 dan menebar cinta 
 di sepanjang jalan raya hidupmu
  
 Selamat pagi kamu,
 Semangat pagi, kamu!
  
 (Depok, Juli 2012)
  
  
  
  
 RAZAN
  
 Razan
 bagaimana aku memulai kisahmu
  
 Detak rindu yang tumbuh 
 dari bukit-bukit matamu 
 menyeruak jauh menembus dinding pulazi, 
 melewati perbatasan Gaza, Palestina
  
 Razan 
 kilau keberanian dan ketulusan 
 dua puluh satu tahun di jubah putihmu 
 telah memperpanjang napas cinta 
 dunia yang kian sekarat. 
 Adakah yang pernah kau lakukan 
 selama hidupmu, 
 selain menolong sesama?
  
 Tapi peluru para sniper zionis 
 tak pernah kenal wajah kemanusiaan 
 atau kebaikan. 
 Bengis  mereka bidik 
 bukan hanya jantung 
 para pejuang tanah airmu, 
 namun tanpa malu mereka bantai 
 para bocah, jurnalis, 
 atau relawan medis sepertimu
  
 Razan
 apa yang harus kuucapkan tentangmu? 
 Aku merasakanmu
  
 Ketika kau terkapar hari itu di Khan Younes, 
 aku menangis sesenggukan di kamarku
 Parau memanggil manggil namamu 
 dalam ketidakberdayaan, 
 sambil mengutuk penembak itu,  
 Netanyahu, Trump dan entah siapa
  
 Tiba tiba kucium aroma langit 
 para bidadari 
  
 Di sudut sepi, 
 puisi puisiku rebah berlumuran darah, 
 mendekap tubuhmu yang kesturi
  
 (Depok, 3 Juni , 2018)
  
  
  
  
  
 TAHUN BARU DI NEGERI TANPA SUARA
  
 Tahun baru tersungkur, 
  menangis di depan pintu rumahku
  Wajahnya memar, 
  dihajar petasan dan prasangka
  Tubuhnya limbung 
  dicekoki bersloki-sloki resolusi basi
   
  Bibirnya pucat tertutup rapat
  Dari matanya yang nyaris buta
  berjatuhan kata-kata
  Tolong, tolong! Hak asasi manusia, 
  demokrasi, keadilan, telah hilang
  diculik dari almanakku!
   
  Tapi kata jadi apa 
  tanpa nurani dan suara,
  sementara keran-keran kekuasaan 
  meluapkan drama-drama
  tanpa logika
   
  Telah bertahun lalu 
  kata-kata tak lagi gemuruh
  Ia jatuh sakit karena terlalu sering dibantai 
  dan dibungkam.
   
  Orang-orang menyeret mayatnya pagi ini
  bersama kisah-kisah serta puisi
  yang bergelimpangan,
  dan membusuk di kerongkonganmu
   
   
  
  
 LELAKI DALAM RINDU ABADIKU
  
 Suatu hari ia melintas dalam mimpiku. Aku mengejarnya 
 Ia melambaikan tangan, mengajakku bergegas 
 "Aku ingin melihatmu lebih jelas, Kekasih!" seruku, 
 "Aku ingin memelukmu!" Aku menangis
 Ia terus berjalan bersama awan yang tak henti menaunginya 
 Lalu sebuah suara indah terdengar, 
 "Setialah melangkah bersamaku di sabilillah"
  
 Aku terbangun, 
 tetapi lelaki itu tak pernah pergi dari denyutku 
 Sejak dahulu hingga kini tiap kata dan langkahnya  
 memantik cahaya di jiwa 
 Semesta menjalin asa dari keteduhannya 
 Bulan terbelah oleh kegagahan cintanya
  
 Aku tersaruk saruk menahan rasa yang kian buncah, 
 dari sunnah ke sunnah,  dari sirah ke sirah, dari shalawat ke shalawat 
 Di tiap gerak dan perjalanan rindu kusebut dan kusemat namanya: 
 Muhammad SAW Pahlawan utama,  Kekasih Sejati Ummat, 
 rindu abadiku hingga surga
  
 (Depok, April, 2013)
  
  
  
 SAFIA
  
 Aku bukan ratu, aku raja
 yang berpolitik lewat geliat sajak 
 dan cerita para sahaya
 kepedulian yang tak pernah selesai 
  
 karena cinta mereka tak terhingga 
 tiga puluh lima tahun aku memerintah 
 padahal para petinggi mengira
 aku tak akan pernah setara pria
 dan Darussalam Jaya tak akan niscaya 
  
 Akulah sultan yang dipanggil Sultanah 
 Safia yang tak kenal selesa masa
 setia menyelusuri tiap jejak
 memungut tiap perih 
 yang ditinggalkan rakyat 
 di beranda hari 
 Aku berjalan tanpa pengawal 
 ke tiap lembah
 sebagai perempuan biasa 
  
 kubuka pintu-pintu peradaban
 kutitahkan Nurrudin Ar-raniri, Abdul Rauf Singkel, 
 para ulama, untuk menulis cahaya
 kukirim para tokoh muda sekolah
 hingga Mekkah Madinah.
 Ilmu di pikiran di sanubari ditulis
 jadi kitab jadi nadi umat
 perpustakan negeri adalah firdaus 
 bagi kanak-kanak hingga para tetua
  
  
 Pada masaku diumumkan 40 Qanun 
 undang-undang kerajaan tentang keberadaan
 dan jumlah perempuan di parlemen
 sedang pasukan khusus wanita kami
 salah satu yang tercakap di dunia
 Penuh izzah kami tetapkan aturan berniaga 
 dengan Inggris, Portugis, Belanda dan lainnya 
 Pada masa itu, tak satu pun dari rakyatku 
 yang sudi mendapat zakat 
 sebab harta, ilmu dan cinta 
 berlimpah ruah di lumbung kami
 Maka zakat dan sedekah kami 
 sampai hingga Mekkah 
 dibawa ulama mereka Yusuf Al Qadri
  
 Aku Safiatuddin Syah Tajul Alam 
 Putri Sultan Iskandar Muda
 mereka memanggilku kemurnian iman, 
 mahkota dunia 
  
 Aku bukan ratu, aku raja
 yang berpolitik lewat geliat sajak 
 dan cerita para sahaya
 kepedulian yang tak pernah selesai 
 mengalir sampai kepala dan hati 
 ke denyut-denyut zamanmu.
  
  
 (Depok, 2 April, 2011)
  
  
  
  
 SEKIAN, UNTUK YANG KUKIRA CINTA
  
 “Aku tak mencintaimu,” katamu malam itu
 
 
 Aku terpelanting, terjerembab
 disergap ilusi dan diksi
 yang pernah berhamburan
 dari kedua matamu
 
 Tercekat, tergesa
 menuruni tangga tangga kisah
 yang telah susah payah kususun
 untuk sampai ke pelukanmu,
 yang semu
 Luka menjulur julurkan lidahnya
 menutupi pias cahaya bulan
 “Aku telah salah menafsir”
 
 Tertatih, kutanggalkan,
 kucampakkan jubah kenangan,
 kuletakkan wajahmu,
 tumpukan rindu, dan airmata
 di tempat yang tak akan pernah
 kusinggahi lagi

 Di jalan raya puisi puisiku
 berkecamuk, remuk,
 digilas mimpi buruk,
 dan sebuah akhir anyir
 tentang perempuan yang mati
 ditikam dongengnya sendiri
  
 (Maret, 2018)
  
  
  
 PUISI UNTUK SEORANG IBU YANG MENDOBRAK PULAZI
 (Untuk Yoyoh Yusroh)
  
  
 Seperti mendengar lagi namamu 
 dibawa angin ke berbagai benua
 berdenyar di nadi-nadi waktu
 Matahari yang leleh memahat langkahmu
 yang tak pernah lelah
 sebagai jejak cahaya
 pada musim-musim airmata dan darah
  
 Adakah ibu yang hidupnya tanpa istirah selama itu?
 Mendobrak pulazipulazi yang tumbuh dari kelaliman
 melipatnya dalam sapu tangan bunga 
 yang kau pakai
 untuk mengusap keringat kanak-kanak Palestina
  
 Hidup bagimu adalah mengabdi Illahi
 dan perjuangan membahagiakan sesama
 dari rumah tangga hingga ke tingkat dunia
 Tak seperti yang lain, politik adalah jalan
 yang kau luruskan sepenuh cinta
  
 Kau terus menebar maslahat, Ibu
 tanpa menghitung, tanpa hirau posisi di dunia
 namun kau, sering tak bisa pejamkan mata
 sebab resah memikirkan tempatmu kelak di akhirat 
 padahal engkau adalah orang yang selalu 
 bersandar pada Alquran
  
 Oh ibu Indonesia, ibu Palestina, Ibu segala benua 
 Kau embun yang menetes di lara dunia
 dalam ada dan tiada
 menjelma binar kekal 
 di pucuk-pucuk semesta cinta…
  
  
 (14 Agustus 2011)
  
  
  
  
 DI JURANG PUISI
  
 I
 Menampung rindu 
 dari hari ke haru,
 Menanggung resah yang berlarian
 hingga jantung,
 Jarum jarum hujan 
 menikam mata kita
  
 Katamu tak apa
 Karena duka cuma
 museum kebahagiaan
 yang retak dan pecah di dada kita
  
 II
 kita pun saling meninggalkan 
 menanggalkan semua kenangan 
 yang hinggap 
 dan meleleh di dahi musim
 sejak saat itu kutemukan diriku
 yang beku, terperangkap dalam kulkas
 berisi puluhan kilogram
 puisi puisi setengah jadi 
  
 III
 tanpa peta aku kembali ke sini:
 jalan raya yang terbuat dari parasmu
 Katakata canggung, waktu gugu
 Bagaimana kau menerjemahkan kekosongan? 
  
 IV
 Ini malam tak ada jejak 
 yang membaca cinta. 
 rindu siapa nganga 
 di jurang puisi? 
  
 (Februari 2013)
  
  
  
 NEGERI YANG TERBELAH
  
 Pikiran siapa yang bertubi-tubi dikebiri 
 dalam kata-kata yang api
 lalu kebenaran menjadi canggung, asing
 dan tak lagi mudah dikenali,             
  
 Nalar siapa yang digerus berulangkali
 ketika kebajikan dipersekusi
 Penjaga risalah difitnah dan didiskriminasi, 
 pencari keadilan berduyun-duyun jadi terdakwa
 dikunci di balik jeruji
 O, kaki hukum yang kian pincang dan rejang
 pemantik kebencian, para pendusta, koruptor, peneror
 di mana mereka kau semat?
 Sedang para penjilat 
 tumbuh sebagai musim semi 
  
 Kesalahan demi kesalahan diamini
 bahkan dirayakan secara terbuka
 di antara serpihan janji yang ditiup angin,
 dan diskusi purba 
 tentang melepas mereka 
 yang hilang ingatan ke bilik bilik suara,
 serta teriakan berisik kelompok picik 
 yang selalu mengaku paling toleran 
  
 Di sepanjang jalan itu kutemukan 
 tubuh-tubuh kita yang lama menyatu 
 terbelah pecah, ditebas entah apa  
 sementara orang orang tak dikenal 
 dari negeri antah berantah
 terus membanjiri tanah ini, 
 bermimpi jadi penghuni baru sebuah negeri 
 yang terus membelah dirinya sendiri
  
 (Jakarta, 2018)
  
  
                                                 
 KALAM
  
 Kalam manusia kalam kita
 sering sekali cuma debu di piranti waktu
 terkadang hanya jadi sajak kurus
 yang mengendap di kantong pilu
 atau menjelma merpati
 terbang telusuri angkasa
 hinggap di pokok-pokok
  
 Kalam kita
 sekali waktu jadi buah pikir
 dan bermilyar tulisan
 dengan satu masa pretensi
 berjalan, kembara pada satu kala
 satu peradaban
 kemudian samar, pupus 
 jadi bunyi senyap
 atau abadi
 dalam lukisan semu gagap
  
 Kalam mulia,kalam Allah
 kalam langit dan bumi
 diturunkan dari gemilang arsy, lauhul mahfuz
 keabadian yang mengatur segala
 bunga kata yang tak pernah berubah
 dengannya pelangi berwarna
 dan matari jadi panas
 dengannya air mengalir
 dan manusia bernapas
  
 tapi dengannya pula tanah kita
 bisa retak meratap
 gunung-gunung berhamburan
 dan manusia menjelma anai-anai
  
 dengannya akan terjaga
 ruh-ruh yang beriman
 di tiap lekuk liku kehidupan
  
 Kalamullah
 sesuci-suci kalam
 petunjuk cinta terpatri
 di sabil hamba terpilih
  
 (Depok 1992)
  
  
  
 BEGITULAH KISAH KITA MENUTUP MATA UNTUK SELAMA LAMANYA
  
 Aku akan bergegas meninggalkanmu, 
 semua jejak, bayangan, dan gurat kenangan itu 
 Tak akan ada pintu, jendela atau satu celah pun 
 untuk kembali. 
  
 Kita mungkin hanya akan melihat 
 satu sama lain dari jauh 
 sambil menyeduh secangkir kopi 
 berisi mimpi masing masing 
  
 Jalan kita adalah simpang empat 
 yang terlalu ramai oleh harapan 
 dan ucapan terimakasih  
 "Kau terlalu baik," katamu. 
 Tapi kau berpura tak tahu, 
 bahwa cinta selalu menjadi pembuka 
 bagi semua jalan kebaikan 
 yang terjal dan mendaki itu
  
 Di pelupuk mataku, seorang gadis, 
 bergelayut manja padamu 
 sambil melambai lambaikan hatinya 
 yang berwarna warni
  
 Malam yang bimbang, 
 berhenti mencumbu purnama 
 Di baris baris kidungmu, rindu tersengal sengal 
 diterjang kenyataan, 
 lari tertatih tatih, terkapar 
 dan bersembunyi 
 di halaman halaman novel, 
 cerpen dan puisi 
  
 Begitulah kisah kita menutup mata 
 untuk selama lamanya.
  
 (Depok, 18 Agustus 2016)

Rabu, 13 Januari 2021

Jl. Masih Panjang (Part 1)

 




 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 Bismillahirohmanirohim, hi my dearest friends how are you? i hope you always healthy and happy. It's been a long time sinced my last blog i think. Sorry, begitu banyak onak dan duri dalam menulis. But now, i want to share my Hijrah yang juga penuh onak dan duri. 

2012

 Tahun dimana titik balik perjalanan hidup mulai kurasakan, seiring bertambahnya usia makin bertambah pula ujiannya, awalnya lebih cuek mulai banyak memikirkan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan, kesalahan apa yang sudah merenggut imanku menjauh dari hati? 

 Iya, saat itu saya masih gadis pada umumnya berjilbab seleher saja, masih bercelana ke kampus kemanapun saat halaqoh wajin dari kampus saja saya pakai rok. Berbagai masalah datang dan berbagai sahabat karena iman pun datang menyadarkan. 

 Saat itu usiaku masih 20 tahun, sedang sibuk-sibuknya praktik RS dan Skripsi. Tapi, saya sama sekali tidak merasakan kesusahan dalam hal itu, namun tetap saja hati ini cemas, mungkin karena dosaku.

 Sayangnya saya tidak bisa cerita masalah yang membuat saya berpikir kembali arti nafas gratis yang Allah berikan, cukup Allah yang mengetahui dan menyembunyikannya. Sungguh saat itu Allah sayang banget hingga mengirimkan orang-orang baik dikala masalah datang. 

 Pernah suatu malam saya menangis sejadi jadinya, menangis begitu dalam menangisi betapa Allah merindukan doa doa ku, merindukan sujud ku, merindukan lantunan ayat suci yang keluar dari lisanku, merindukanku. Ya, saya pun merindukanNya sangat amat, belum pernah dalam hidup serindu ini pada Kekasih Hati.

 Hari demi hari kupakai untuk merenungi semua dosa, semua khilaf yang Allah selalu sembunyikan dari teman temanku, keluargaku, Sunggu betapa Allah mencintaiku dan saya pun harus membalas cintaNya dengan berHIJRAH.

 Pernah dengar lagu Muhasabah Cinta dan Sendiri Menyepi dari Edcoustic lagu ini pun membantuku mengingatnya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi tak satupun saya membalasnya. Sedih? Sedih karena semakin bertambahnya usia maka makin dekat pula ajalku, itu berarti waktuku menipis untuk memohon ampun.

 Tahun dimana saya pun mulai merubah penampilanku, merubah total pakaianku bahkan caraku memandang setiap masalah dan menilai orang orang yang mampu membawaku dalam keimanan.

 Belum, saya belum langsung sempurna. Masih belajar di level 1 dalam berpakaian, teman sekelas pun mayoritas kaget dengan perubahanku, iya kelas itu masih hedonis hanya beberapa orang saja memang yang sudah lebih dulu berhijrah. Tentu saja saya mendapatkan ucapan ucapan bernada menghina akan perubahan penampilanku.

 Perempuan jika sudah berhijrah hal utama yang paling terlihat adalah penampilannya bukan? Mereka menghinaku secara terang terangan, ah! Masih sangat teringat jelas hingga saat saya menulis ini "Jilbab apa yang kau pakai? Bukan taplak meja kan?" saya tidak bisa membalasnya hanya senyum saja yang terlihat dalam diwajahku, meski kalian tahu? Saya menangisinya.

 Watak perempuan sesuai ciptaanNya penuh dengan kelembutan, maka ketika ada yang menghina dirinya karena mendekatkan diri pada Rabbnya pecah pula tangisannya di sepertiga malam tapi setelah itu saya kembali ceria, saya tahu karena membacanya dari buku para Sahabat Perempuan di Zaman Nabi, cobaanku ketika berhijrah belum ada apa apanya maka Sabr membuat saya makin dekat denganNya. 

 Tentu saja saya tidak berusaha berubah seorang diri, saya butuh teman menuju keimanan, butuh pembimbing untuk bertanya hal apa saja yang bisa mendekatkanku dengan CintaNya dan Masya Allah sambutannya luar biasa. Saya tidak akan melupakan jasa salah seorang teman sekelasku yang mengarahkan ke dalam halaqoh halaqoh yang tersebar di kampus, banyak ternyata tapi selama ini saya buta dengan maksiat sehingga yang halal tampak menjijikan dimataku Astagfirullah. 

2013

 Saat itu usiaku 21 tahun menuju sidang skripsi untuk meraih gelar sarjanaku di salah satu universitas swasta di Sukoharjo (mungkin teman teman ada yang tahu yah) saya semakin mantap menuju ke jalan yang Allah ridho alhamdulillah. 

 Jika ditanya apa tidak ada godaan? Banyak, selama masih bernafas selama itu pula hawa nafsu terus ada, terlebih lagi ujian dari keluarga, orangtua. Saya sudah dengar hal yang paling sulit ketika kita memutuskan berhijrah adalah menghadapi penilaian orang tua kandung. 


Bersambung...

Selasa, 29 Maret 2016

Cause you're Strong


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang dusta (munafik)."

Hmmmm, surat ini Surat Al-Ankabut, surat ke 29 di ayat 2 dan 3, saat hati lemah, iman sedang goyah ketika ujian yang Allah berikan berdatangan secara serempak dan tak mengenal waktu saya selalu coba mengingat ayat ini. Selalu... Ayat ini saya dapat ketika saya bertanya kepadaNya ketika saya mulai mengenal kembali siapa itu Yang Maha Esa

"Ya Allah, apakah harus saya? Kenapa harus saya ya Allah? Kenapa engkau pilih hambaMu yang lemah ini? Kenapa bukan orang lain? Kenapa saya berbeda? Kenapa Engkau berikan kpd ku? Kenapa ya Allah?"

Tak mendapatkan jawaban, lantas sy bertanya kepada teman di Klaten, bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan Allah secara langsung? Dia menyarankan, buka Qur'an secara acak dan ayat pertama yang terbaca maka itu JawabanNYA

Surat ini, adalah surat pertama yang melekat di hati, bukan karena hafalan tapi makna terdalam. Makna yang begitu berakar untuk menemani hijrah, menguatkan iman!

Ibarat sekolah, ketika kita akan naik kelas kita akan menghadapi ujian, semakin tinggi, semakin berat pula ujiannya. SD ke SMP, lalu ke SMA kemudian kuliah. Semuanya kita lalui dgn ujian. Hanya kita tak peka bahwa trnyta kita sdg naik level.

Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam pernah ditanya oleh Sa'ad bin Abi Waqqas

"Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)

Sama halnya dengan iman, Allah membedakan ummatnya dengan ujian, membedakan mana yang beriman dan mana yang tidak. Seperti dalan surat Ali Imran ayat 186, Allah berfirman

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan"

Sabar dan takwa adalah kunci problem solving (pemecahan masalah) berat atau tidak kunci jawabannya tetap sama "sabar dan takwa" inilah yang membedakan org beriman dan tidak.

Namun perlu kita ingat bahwa seberat beratnya ujian yang Allah berikan kepada manusia setelah Rasulullah dan para sahabat, tak ada apa apanya. Ujian kita hanya ujian 1:1jt beratnya. Begitu ringan, seperti kapas, tertiup angin dengan mudah dia melayang.

“Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya, baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya.” (H.R Bukhari)

Jadi tak ada alasan untuk kita merasa sedih, putus asa, menyerah, hingga berlarut larut. Allah tak suka hal itu. Sedih hal yang lumrah setelah itu bangkitlah.

Karena, Hei! Kita lah orang orang yang dipilih Allah untuk naik ke level lebih tinggi dengan hadiah kelulusan berupa rumah...,

Bukan, bukan sekedar rumah, lebih dari itu, Istana di Surga.

By: Ocnatias Eka Saputri, hamba yang lemah
IG: @tiasekaputri
IG My Outfit: @oescollection

Senin, 07 Maret 2016

Wa laa taqrabu zina

“Wa laa taqrabu zinaa …”

“Jangan dekati zina …” (QS Al Isra: 32)

Dear shalihah,
Pernah dengar ayat di atas?
Harusnya sih pernah yah, atau kamu malah anti dengan ayat tersebut?

Lumrah ketika kita mencintai seseorang, sangat lumrah karena Allah yang memberi rasa itu. Apakah cinta itu bisa hadir ke aktivis dakwah? Oh sangat bisa, sangat bisa sekali.

Ketika makan ada dia, ketika mau tidur ada dia, BAHKAN Ketika tilawah lembar demi lembar dibuka selalu ada dia.

Ini cinta, bahkan saat berdoa pun dengan sadar kita mendoakannya.

Sangat lumrah seperti itu, apakah tidak boleh? Apakah salah? Boleh dan tidak salah wallahu a'lam yang salah dan yang tidak boleh ketika rasa itu berlarut larut, membuat kita malas beribadah, membuat kita jatuh ke lubang maksiat.

Begini, Allah bukan melarang kita berzina, tidak ada ayat yang menjelaskan hal tersebut. Namun Allah melarang kita mendekat zina. Jangankan berbuat zina, MENDEKATI saja Allah sudah larang. Tandanya apa? Allah Maha Pecemburu. Ketika ada makhluknya lebih memilih dunia daripada akhirat, ketika lebih menjauh dari Allah saat mendapat kekayaan, ketika cinta kita lebih besar terhadap makhlukNya daripada kepada Allah, dan ketika kita mendekati zina dengan dia atau mereka yang bukan mahrom kita.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR Muslim)

Bagaimana dengan pemuda sekarang? Pacaran dengan bukan suaminya menjadi hal lumrah. Atau ada sekarang yah pacaran syariah. Biasanya terjadi dikalangan aktivis dakwah nih. Setan bukan lagi mengejar perihal aqidah, perihal tauhid BUKAN, setan mengincar akhlaq.

"Saya nggak pegangan tangan kok Mbak"

"Saya kan hanya sms jangan lupa sholat yaa akhi"

"Saya kan hanya di ajak ke kajian bareng Mbak"

"Kami hanya saling mengingatkan sholat kok Mbak"

Wahai shalihah, sekali lagi Allah melarang kita mendekati zina!

Nanti lama lama

"Ana uhibukifillah yaa ukhti/akhi"

Modus wahai muslimah!

Apa lantas kita pikir setan tidak cerdik? Setan itu pintar, dia mengusik melalui aliran darah kita. Untuk itu kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa, karena ketika berpuasa aliran darah kita menyempit. Nafsu bisa teralihkan.

Laki laki yang baik tak akan mungkin mendekatimu sebelum mendekati orangtuamu. Laki laki yang baik bukan mencari perhatianmu, namun mencari perhatian bapakmu. Laki laki yang baik tidak berpacaran denganmu tapi berpacaran dengan orang tuamu. Laki laki yang baik datang ke rumahmu bukan mengajak untuk berpacaran, namun mengajakmu untuk menikah melalui bapakmu.

Bagaimana? Siapa menjaga hati hanya untuk dia suamimu? Good Luck shalihah!

Wallahu a'lam
IG @oescollection
WA +6285729530070 (fast)
Menyediakan pakaian syar'i casual, wisuda dan walimah :)

Rabu, 02 September 2015

Kita Menyebutnya Wanita Kuno



Jika wanita kuno disematkan pada seorang ibu yang hanya di rumah, mengurus keluarga, mengurus anak, mengurus usahanya saja di rumah. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu ibu kita dulu, yang rela lepasin gelar sarjana, nurut suami. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu yang lebih dahulu bangun sebelum orang lain terbangun, akan tidur ketika semua orang sudah tertidur. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu ibu yang selalu bersyukur, atas apapun pemberian suaminya. Mereka memang kuno
Jika wanita kuno adalah ibu yang menghasilkan seorang anak ditahun tahun 2000 kebelakang dan sekarang si anak menjadi seorang presiden, guru besar, penemu, pencentus, milyarder, pengusaha besar, dan tokoh tokoh ulama yang namanya harum. Maka wanita itu memang kuno

Wanita itu memang kuno, tidak mementingkan karirnya, tidak mementingkan egonya, tidak mementingkan gengsinya, fokus utama adalah keluarga

Bagaimana dengan para ibu di zaman milenium?

Wanita modern dengan gelar sederet, menitipkan anak anaknya di tempat penitipan anak saat kerja, meninggalkan anaknya bersama sang nenek demi mengejar gelarnya, melepaskan perkembangan anaknya pada orang lain, dan sifat 'meninggalkan' lainnya. Oh ibu, sungguh hebat. Modern

Apakah akan ada penemu lagi ditangan seorang ibu yang mementingkan egonya?

Apakah akan ada lagi ilmuwan ternnama ditangan seorang ibu, yang tega meninggalkan buah hatinya ditangan orang lain?

Akan jadi apa anak kita nanti? Akan jadi apa masa depannya?

Ingin lihat masa depan anak kita seperti apa? Bisa, lihatlah pola asuh yang kita berikan selama ini

Wanita kuno jauh lebih berharga, dari pada wanita modern dengan gengsi di hatinya.

Jumat, 15 Mei 2015

Saudariku, Kembalilah...

Ah sudah lah, sungguh...
Aku cinta kepolosan itu, keluguan itu, kesederhanaan itu, aku rindu... merindukannya.

Disaat aku tak ingin mengenal lebih dekat dengan dunia, tak akan ada rasa iri, cemburu, dengki, bahkan gengsi yang berlebihan.

Membuat lupa dan melupakan lugunya diri. Kesederhanaan yang membuat Allah lebih suka, lebih sayang, lebih cinta kepada hamba-Nya.

Aku terpana, tercengang pada bius dunia yang membuat si pecandunya merasakan terbang, memiliki sayap dan berkata "Hallooooo ini, aku ada sedang di hadapanmu. Lihatlah! " 

Hilang sudah, hilang. Ketika beberapa tahun sebelumnya aku mulai melihatmu dengan balutan syar'i dalam akun facebookmu dan aku ingin memanggil dan belajar darimu yang lebih dahulu hijrah, "Ukhty... maukah mengajariku menggunakan hijab seperti yang kau kenakan? Bagaimana caranya aku bisa sepertimu?" tapi saat itu aku tak berani.

Setelahnya benar aku merasa kehilangan, dirimu tak lagi sama. Kesederhanaan tanpa riasan wajah itu hilang diganti dengan sekelebat riasan arogan, itu bagiku saat melihatmu sekarang.

Arogansi dengan penuh gengsi itu muncul, kau bukan yang dulu yang membuatku terpana dan tercengang. "Kemana dirimu duhai ukhty nan shalihah... Kemana kau pergi? Tak ingin kah kau kembali dalam wujud sederhana seperti saat aku melihat busana syar'i mu?"

Goyah memang goyah, ketika hati sudah terbius ujian ujian mewah dunia. Tak ada satupun manusia yang menyatakan dirinya beriman tanpa di uji, meski ulama besar sekalipun. Apalagi kamu, aku yang tak ada apa-apanya.

Duhai saudariku tersayang, lihatlah ada banyak sahabat shalihah yang menantikan mu kembali, bersama dalam keanggunan syar'i yang jauh lebih sederhana dan indah.

Ingat, bagaimana Allah beri kenikmatan ibadah, kenikmatan saat kau benar-benar dekat dengan-Nya pada masa itu. Bertanyalah kembali pada hatimu, apa yang sedang kau rasakan? Tak rindukah kau pada masa indah itu? 

Aku rindu, kami rindu keanggunan dirimu dalam memahami al-haq.

Saudariku, kembalilah...

Saudarimu, yang merindu karena Allah
Ocnatias Eka Saputri

Selasa, 07 April 2015

Menjadi Pengantin Penuh Berkah

Bismillah...
Ketika ada wanita ditanya ingin pernikahan seperti apa, ia ingin sekali pernikahan megah di gedung yang mewah, baju pengantin yang berkilauan, diiringi arak arakan pengantin, makanan yang berjejer, hingga tamu undangan yang bahkan ia tak kenal pun hadir -_-".

Tapi disisi lain, tak sedikit wanita yang berharap pernikahan sederhana berbalut syar'i, terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan, tak ada musik berisik yang berdendang, bertempat dirumah sederhana, yang penting Allah ridha itu sudah cukup, jauh dari sarana untuk berfoya-foya. Tamu yang diundang dikenal atau bahkan ingin anak yatim merasakan kebahagiaan yang dirasakan si pengantin. Bukankah itu lebih indah?  Bahkan bila memang mampu, sisa uang walimahan bisa disumbangkannya untuk muslim di negara yang sedang membutuhkan kita, bukankah inilah yang seharusnya menjadi impian pengantin?

Yang penting Allah ridha, ingatkah kita dengan sifat zuhud luar biasa dari Rasulullah salallahu 'alaihi wasalam? Mungkin kita tak bisa 100% seperti beliau, tapi dialah sosok yang patut kita contoh.

Bukankah akan indah dan penuh berkah pernikahan itu? 

Duhai wanita, duhai para orang tua sederhanakanlah semuanya in syaa Allah lebih berkah, dan Allah akan hadir dalam pernikahan yang penuh dengan kesederhanaan bukan dalam kemewahan.

Semoga impian impian itu bisa terlaksana untukmu muslimah

Aamiin Allahumma Aamiin

Rabu, 28 Januari 2015

Wanita, Ibunda Fajar Islam

Wanita, Ibu Fajar Islam

Sungguh benar ungkapan seorang penyair,

Ibu adalah madrasah
Bila engkau mempersiapkannya dengan baik
Berarti engkau telah mempersiapkan suatu generasi yang mulia

Ibu adalah taman
Bila engkau rajin menyiramnya
Maka ia akan tumbuh subur dan lebatlah dedaunannya

Ibu adalah guru
Guru dari segala guru
Jasa-jasa besarnya menyelimuti seluruh cakrawala

Wanita merupakan ibu-ibu yang telah melahirkan fajar Islam. Kebesaran Islam menjulang karena jasanya. Kekuatan Islam terbangun karena perannya. Berkat mereka, kemuliaan Islam tersebar luas dan pilar-pilarnya tertancap dengan kokoh. Itulah gambaran peran kaum ibu di masa-masa keemasan Islam dahulu. Mereka adalah persemaian kehormatan yang bebas, kemuliaan yang orisinal dan keagungan yang kokoh.

Perjuangan mereka tak pernah berhenti bahkan ketika telah wafat. Perjuangan mereka dilanjutkan kepada setiap wanita mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Pertanyaanya sekarang, sejauh mana kita sebagai wanita telah mempersiapkan diri menerima tongkat estafet selanjutnya ?

Sejauh mana ?

Ketika kita masih "dingin" terhadap aturan Allah, maka bisa dibilang kita belum siap menjadi penerus perjuangan para ibunda kaum mukmin. Bahkan bila kita sudah menikah dan punya anak.

Sudahkah engkau bertanggung jawab atas kehormatan dirimu ?
Sudahkah hijabmu menjulur menutupi cantikmu?
Sudah "rapi" kah pergaulannmu dengan lawan jenis?

Maka bercerminlah, sudahkah kita mengikuti teladan sejati, ibunda kaum mukmin ?

Wallahu a'lam
7 Rabiulakhir 1436 H

Senin, 05 Januari 2015

Enggan Berhijab Syar'i, Takut Salah





"Aku belum siap yas, kalau harus berhijab seperti kamu. Aku masih suka boncengan sama cowok. Kan gimana gitu kalau diperhatin orang. Hijabnya besar tapi masih suka boncengan sama cowok yang bukan siapa-siapanya. Aku nggak mau lah agamaku, Islam dihina hanya gara-gara hijab yang nempel ini belum bisa aku bawa kemana-mana. Jadi tiap kali boncengan sama cowok, aku lepas hijabku"
Curahan hati nih, masuk ke saya. Mungkin, tidak sedikit yang seperti demikian yah.
Mari kita carikan solusinya.

Bismillah,
Saudariku shalihah. Hijab bukan lah sebuah hak yang boleh dipilih akan melakukannya atau tidak, namun hijab bersifat wajib dan hak kita adalah menunaikannya. Maka, harus dilakukan bagaimanapun kondisinya. Bahkan, bila kita sudah berada di tanah bersiap kembali kepada Sang Pencipta Yang memberi hidup dan mengambil hidup. Mengafani untuk perempuan jelas berbeda dengan laki-laki, aurotnya benar-benar diperhatikan. Apakah kita harus menunggu Allah mencabut nyawa kita dulu baru setelah itu ditutup seluruh tibuh kita dengan kain putih bernama kafan ? Tentu kita tidak mau saudariku.
Seseorang yang berhijab besar belum tentu baik, bersih, suci, shalihah, karena masih terus belajar untuk menjadikkannya shalihah. Bila Allah masih memberi kita nafas, tak ada kata berhenti belajar untuk seorang muslim/ah. Karenanya berhijab besar adalah proses menuju ketaatan kita. Tak serta merta dengan berhijab besar maka rumah di surga telah siap, namun dengan berhijab besar setidaknya bata demi bata kita bangun dengan perlahan untuk rumah kita di surga kelak.
Jangan salahkan Islam nya, namun salahkan muslim/ah. Karena definisi keduanya jelas berbeda. Ini yang perlu diluruskan. Islam sudah mengatur sedimikian rupa agar baik bagi pengikutnya, yakni bagi mereka yang bertauhid atas nama Allah. Allah tak pernah salah menurunkan firman-firmanNya, ALLAH MAHA BENAR. Sementara muslim atau muslimah hanya pengikut, bagian dari makhluk Allah. Kesalahan adalah sifat manusia. Itu murni.
Maka dengan berhijab besar, otomatis dengan sendirinya kita akan menjauhi apa yang Allah larang, karena sifat malu yang begitu di dambakan oleh seorang muslimah akan menghiasi sedikit demi sediit dirinya.
Jadi, apabila hingga sekarang kita masih enggan berhijab besar atau bahkan enggan mencobanya, selamanya sifat malu itu tidak akan hadir, shalihah itu tidak hadir, kelembutan itu tidak hadir, keanggunan itu tidak hadir, bahkan kemuliaan kita sebagai wanita yang dalam Islam begitu dihormati tidak akan hadir pada diri kita. Selamanya pula, wanita hanya akan jadi obyek pelampiasan syahwat seperti pada konsep kaum liberal.
Kesimpulannya bila kita melepas hijab maka sifat malu akan hilang, namun sebaliknya bila terus kita istiqomah mempertahankan hijab, lambat tapi pasti sifat malu menjadi perhiasan berharga yang menghiasi langkah anggunmu
Wallahu a'lam
Berhijab syar'i lah saudariku, sama-sama belajar. Kita memang akan terasingkan, namun kita tak akan pernah lagi merasa sendiri, karena Allah dan Rasullah akan bersama kita 

Tips Senang Semangat Tilawah




Bismillah...
Tips ini hadir dan diuji coba pada diri sendiri, alhamdulillah bermanfaat. Sekarang, giliran anda

1. Gunakan mushaf berukuran besar, tulisanya besar | agar mata tidak lelah atau mudah ngantuk

2. Gunakan mushaf terjemahan dan mushaf tanpa terjemahan | jadi sesekali kita melihat artinya, membuat penasaran. "apa sih artinya?" sering bertanya seperti itu kan? :D

3. Dengerin murotal sebelum tilawah | mengguggah semangat, dengan mendengarkan suara yang merdu dulu sebelum  mendengar suara sendiri yang "pas pasan" hehe 

4. Jangan bertilawah ketika mengantuk atau lelah | akibatnya fatal, malah jadi males tilawah dan bersifat keterusan.

5. Tilawah setelah mandi | beneran ! fresh banget dan tentu lebih bersih

6. Tidak usah ngebut bertilawah, gunakan metode sedikit, perlahan namuan sering | apalagi untuk yang ingin bertilawah lagi dari "cuti panjang" alias males berkepanjangan 

7. Tempatkan mushaf di kamar tidur, meja belajar, ruang keluarga, ruang tamu, dalem tas | ngebantu banget untuk ingetin "hutang" tilawah untuk Allah. 

8. Tilawah di dalam kamar *menyendiri" | agar lebih khusyuk, dan dapet manfaat ketenangan dari bertilawah.

9. pilih mushaf yang berwarna cerah, ceria | membantu menyegarkan mata

10. Ikutin kuliah tahsin/tajwid *belajar ilmu tajwid* | manambah semangat ingin lagi, lagi, dan lagi bertilawah.

11. Jangan menggunakan gadget ketika bertilawah | bahaya, malah buka facebook, whatsapp atau ngegame, malah nggak jadi tilawah.

12. Berkumpul dengan orang-orang yang menjadikan tilawah kebutuhan hidup | tanpa tilawah hidup terasa hampa

13. Perbaik niat adalah yang utama

Selamat mencoba, maaf ala kadarnya. 
#PengalamanPribadi #Coba2Bermanfaat

Sabtu, 06 Desember 2014

Aku Jatuh Cinta #Ep2 Serial Ias dan Ima


"Aku jatuh cinta Ias..." kata itu keluar dari mulut Ima. Sontak membuat kaget Ias. Kenapa bisa Ima sahabatnya yang religius bisa jatuh cinta. Bukankah puasa senin kamis yang Ima laksanakan tak pernah absen. Sungguh Ias tak paham, bagaimana bisa?

"Aku juga manusia Ias, tak bisa terus-menerus bersembunyi dari yang namanya cinta." Benar kata sahabatku ini. Cinta, membuat yang mengenalnya mabuk kepayang.

Cinta, siapa sih yang bisa menolaknya? Menolaknya adalah hal tersulit, bagai burung yang ingin berjalan tapi tak sanggup maka burung itu pun terus terbang. Susah untuk menolak jika tubuhnya didesign memang untuk terbang. Manusia? Yaa, manusia terlahir dari cinta, otomatis cinta akan selalu ada dalam hidupnya.

Menolak cinta memang hal yang mustahil, namun bila cinta di arahkan ke jalan yang tepat, koridor yang tepat maka cinta akan berlabuh di tempat yang tepat.

Ima memang jatuh cinta, tampak dari wajahnya yang ceria, namun samar-samar Ias tahu sahabatnya ini memendam cinta. Cinta dalam diamnya seorang hamba, yang mengharap ridho atas cinta yang hadir dalam benaknya, cinta yang belum halal.

Ima bagai Romeo dan Juliet. Bukan, bukan cerita dari barat itu yang mati bareng. Tapi, cinta Ali dan Fathimah. Tersembunyi, benar-benar tertutup. Percaya kuasa Allah, takdir Allah itulah cinta. Suatu saat, pasti akan berlabuh pada cinta yang halal...

#Ep2 Serial Ias dan Ima

Ocnatias Eka Saputri

Doa Itu, Harapanku

Ya Allah, keputusanku mengikuti kebenaran di jalanMu memang sungguh berat. Laksana ombak, kadang tenang, terkadang juga bisa bergemuruh melenyapkan seisi kota. Namun, Engkau tak pernah henti menunjukkan kuasaMu, kebesaranMu, kasih sayangMu, hingga aku lupa kepedihanku.

Hari ini, 11 Shafar 1436 H.Diantara ramainya pameran buku, diantara banyaknya hamba Allah yang haus akan ilmu. Aku sedikit termenung, meratap lebih tepatnya. Samar- samar aku melihat ada ibu, bapak dan anak gadisnya berhijab lebar sedang memilih-milih pakaian. Ada rasa iri begitu melihat pemandangan itu, mungkin bagi orang lain pemandangan itu biasa saja. Tak ada yang spesial. Tapi, hatiku tak bisa dibohongi. Aku iri ya Allah. Andai saja gadis itu adalah aku, betapa bahagianya diriku berada di tengah kedua orang tua yang mendukung pilihanku.

Ditambah lagi jika mengingat aku dan orang tua memiliki perbedaan pendapat. Bahkan, diakhir bulan november kemarin aku sempat menentang ajakan mereka mengikuti tahlilan 40 malam eyang kakung. Sejak saat itu mereka tak ingin menghubungiku lagi lewat telfon. Handphoneku tak lagi berdering adanya panggilan masuk dari mereka. Apa aku yang harus menelfon duluan? Rasanya gengsiku lebih besar. Ya Allah, maafkan aku.

"Astagfirullah..." seketika aku beristigfar. Apa yang sudah aku pikirkan? Egoisnya aku, harusnya aku bersyukur Allah mengirimkan dua malaikat tanpa sayap menemani hidupku hingga sekarang, tak ada mereka maka tak ada aku. Ah, lagi-lagi air mataku kembali jatuh tak bisa ku tahan. Ramainya pameran buku tak bisa menutupi hatiku yang sungguh sedang terluka.

Aku seakan ingin teriak. "Bapak, lihatlah aku. Apa kau tak bangga pada perubahan baik anakmu atas nama Allah dan di jalan Allah? Begitu sulitkah menerima perubahanku?"

Sudah, sudah. Pagi tadi, ketika menyambut fajar aku sudah bersujud pada Allah, agar orang tua ku kembali menyapaku, kembali ingin bersenda gurau kepadaku, kembali tersenyum dengan setiap humor yang ku hantarkan di sela-sela percakapan sederhana kami di telfon.

Aku rindu ya Allah, rindu sekali. Rindu yang menggebu-gebu. Inikah bentuk cintaku pada keduanya? Ya Allah, apa aku salah?

Aku hanya mampu memohon kepadaMu, mengadu kepadaMu. Lunakkan hati keduanya ya Rabb yang Maha Perkasa. Patahkan perisai egois dan gengsi di hati kami. Bukakan hati mereka menerima kebenaran atas namaMu yang ku bawa untuk keduanya.

Pukul 17.09, aku bersiap pulang ke rumah. Amanah untuk menjaga stand hari ini telah usai. Sekarang, saatnya pulang. Ah ya, sebelumnya aku membeli dulu iga sapi. Hari ini aku dan adikku sepakat menikmati santap malam sesekali dari luar. Sembari menunggu, aku lanjutkan bacaan buku dari kisah nyata yang di tulis oleh ust. Abu Umar Basyier judulnya Kemuning Senja di Beranda Mekkah. Rafiqa dalam kisah ini, sepertiku. Harus berhadapan dengan pasukan yang menolak perubahanku, bahkan berada di baris depan, mereka adalah keluargaku.

Teringat lagi akan keduanya, ya Allah bagaimana ini? Tiba-tiba suara handphone berbunyi, di layarnya tertulis "Mamah". Ya Allah ini mamah, betapa senangnya hatiku. Aku seakan terbang bebas mengudara, ku ingin menyampaikan pada dunia bahwa mamah menelfonku.

Kurasa detak jantungku berdegup keras dan cepat. Ada apa ini? Masihkah mereka memarahiku? Ya Allah, jika memang benar begitu maka, kuatkanlah hati hamba menerima tiap perkataan mereka.

"Assalamu'alaikum anakku" sapa suara dari semberang.

"Alaikumussalam mah" Balasku. Tahukah? Sesungguhnya bila saja mamah melihat ini, aku sedang menahan tangis haru. Betapa suara itu mampu melepas kerinduanku.

Percakapan kami ditutup dengan menanyakan kepulanganku karena rindu katanya. Ya Allah, sudahlah... aku tak tahan lagi. Pecahlah tangisanku setelah mamah mengakhiri telfonnya dengan mengatakan kerinduan.

Betapa baiknya Engkau ya Allah, begitu cepat Engkau kabulkan permintaanku. Padahal, baru tadi pagi aku meminta dalam tahajudku. Sekarang, Engkau kabulkan. Mereka menelfonku. Ya Allah, Engkau Maha Membolak balik kan hati... Aku bersyukur memilikiMu.

Ocnatias Eka Saputri
11 Shafar 1436 H

Kamis, 04 Desember 2014

Gelapnya Menyambut Fajar

Hatiku bergejolak seketika, kulihat jam menunjukkan pukul 02.09. Ah, malam masih gelap aku ingin merebahkan tubuhku beberapa menit lagi. Menikmati nyamannya kasurku yang tak mau ditinggalkan. Namun, hatiku merasa ada yang memanggil. Panggilan itu kian kuat. Kuat sekali, hingga aku pun menuruti panggilan itu.

Ku segera beranjak dari bujuk rayu kasurku. Wudhu kini menghiasi tubuhku, mengalir membersihkanku. Segarnya ku rasa. Ku gelar sajadah biru usang yang selalu menemani sujudku. Walaupun usang, sajadah ini menjadi saksi bisu bahwa tangisan, kebahagian pernah ku tuangkan dalam tiap barisan benangnya.

Sekarang ku siapa menyambut pujaan hatiku yang sedari tadi memanggilku, untuk segera berduaan denganNya. Ah Dia sudah rindu padaku, begitupun aku, aku pun rindu padaNya. Duhai kekasih hatiku, ada apa gerangan Engkau memanggilku? Rindukah Engkau pada setiap sujudku untukMu?

Setelah menyambutMu dalam sujudku, tergerak hatiku ada lagi yang memanggil-manggil ku. Siapa? Panggilan itu kuat sekali, ku langkahkan kaki menuju rak buku di hadapanku. Ku sambut yang sedari tadi juga memanggilku.

Ku buka lembaran demi lembaran, hatiku bergerak menuju sebuah nama ke 55 halaman 531. Ar Rahman. Ku lantunkan setiap ayatnya dengan sesama, hatiku tak kuasa menahan tangis, aku sampai tak merasakan ada butiran air mata membasahi kedua pipiku, seketika wajahku memerah, mulutku terhenti. "Maka nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan?"

Surat cinta, surat cinta dari Sang Maha Kuasa. Surat ini, seakan ditujukan padaku. Tatkala aku mulai lemah, Dia kembali mencubitku. Berusaha memberikan jawaban dalam setiap ayat yang kubaca dari Ar Rahman.

"....wal ikkrom", tangisanku pecah seketika, ku peluk mushaf ini dengan sungguh-sungguh, ku rasakan kehangatan dekapanMu lewat mushaf ini. Tangisanku semakin membesar, aku tak punya kuasa menahanNya. Menahan rindu yang teramat dalam, rindu yang tertahan seperti ratusan tahun aku tertidur. 

Aku memohon dengan segenap hati, agar mereka yang selalu menghinaku mampu membaca maksudMu dalam surat ini. Aku pun berpasrah, bisa jadi karena Engkau tahu aku bisa melewati ujian yang Engkau takdirkan untukku. Maka, Engkau kirimkan ujian ini untukku, dan menjadi penyebab datangnya hidayah untuk orang lain. Untuk keluargaku.

Untuk itu, aku memohon kuatkan lah hatiku, bantulah aku agar tetap istiqomah dan bukalah hati mereka. Sesungguhnya hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati. 

Minggu, 23 November 2014

Ketika Pacaran Menjadi Pilihan ? Witing Tresno Jalaran Manut Agomo



Bismillah...

Ketika pacaran menjadi pilihan, berarti bukan memilih untuk bertanggung jawab, bukan memilih untuk komit, tapi memilih untuk mencoba, mencoba, dan mencoba. Istilah kerennya sih penjajakan dulu, penjajakan seperti membeli sepatu di toko, coba dulu "ah nggak pas nih, bukan yang ini coba yang lain dulu deh", agar menegenal dulu, biar nggak beli kucing dalam karung kata mereka begitu.

Pacaran itu gaya orang orang di barat, mereka anggak punya konsep caranya mencari calon istri bagaimana, mencari calon suami seperti apa. Jadi, mereka sebenarnya buta untuk berumah tangga untuk itu mereka pacaran dengan siapa saja untuk mencoba dahulu. Sementara cinta mereka tidak berlabuh dimana mana, tapi hanya sementara menempati hati. Bahkan itu bukan cinta, tapi syahwat. Contoh gaya barat yang dipakai di Indonesia, pernah nonton "take me out" ? Disitu pria dan wanita seperti barang dagangan yang dilelang, saya seribu, saya dua ribu, saya seniman, rambut panjang, gondrong, tindik 3 di kuping. 

Kita berbeda dari barat, kita punya konsep yang sudah tertata rapi untuk mendapatkan pasangan. Tak perlu repot seperti pacaran, duit masih minta ke orang tua mau pacaran, kasihan orang tua nyari duit susah susah dipakai untuk pacaran. Apa yang kamu punya? motor ninja keluaran luar, dibeliin papahhhh. Nggak malu ? 

Sekarang, kita tak sedang membahas tentang mereka yang belum memahami bahaya pacaran. Namun, kita berbicara untuk mereka yang memahami bahaya pacaran tapi masih pacaran. Menyalahgunakan perihal ta'aruf, ini banyak dikalangan yang kita sebut dengan aktivis seorang aktivis dakwah. Tidak sedikit dari mereka berta'aruf tanpa seorang perantara atau ust atau murrobi masing masing, mungkin karena sudah paham ta'aruf, katanya jadi pengen ta'aruf sendiri. 

Ikhwit : Kirimin fotonya donk, kita kan sekarang tahap nadhor
Akhwit: Loh kok foto? Apa nggak sebaiknya nanti saja.
Ikhwit: Kita kan nadhor, ana kan mau menikahi anti

Cinta itu fitrah kok, kita nggak bisa menolaknya ketika dia datang, akan tetapi kita bisa mencegahnya. Bisa bertemu dimana saja, bahkan setelah ikut kajian ini setelah berdoa semalaman "Ya Allah, dekatkan aku pada jodohku, kebetulan ya Allah besok ada kajian pertemukan aku disana ya Allah", Nah ..... hehe

Bisa langsung datang ke ust yang ngisi kajian, 

Ikhwan: tadz ana niat nikah tadz akhwat nya sudah ada yang ikut kajian hari ini
Ustadz: Yang mana? sudah lihat wajah?
Ikhwan: yang pakai jubah gelap dan cadaran tadz
Ustadz: Loh?! Semuanyaaa cadaran dan gelap gelap bajunya

Nyari istri juga jangan nyari pembantu yah. Pulang kerumah bukan bawa hadiah, tapi bawa cucian kotor.  "Dek laper, makan donk", "mau makan apa mas? iga bakar, soto ayam, ayam bawang, semuanya saya bisa dalam bentuk mie instant" hehe. 

Nyari istri juga jangan terlalu pemilih wahai ikhwan, jangan milih nyari hafidzoh 30 juz hafal, sementara ikhwannya juz amma belum hafal. Ketika seseorang menikah, suami juga harus menjaga hafalan istrinya. 

Suami: dek, tolong dicuciin yah
Istri: kalau hafalan  ana juga ikut rontok kecuci gimana mas?

Suami: dek tolong di strikain yah bajunya
Istri: kalau ana kepanasan, terus otak ana ikut kepanasan, kemudian lupa hafalan saya gimana mas?

hehehehe........

Wujudkan senyum dalam wajah istri, walau hanya seribu duaribu, bakso bakar seribu dapet tiga biji, bilang ke istri "Maaf yah baru bisa bawa ini, bagaimana kalau kita makan berdua saja? Aku manisnya, kamu pedesnya" hehe. 

Lebih baik kita itu gagu setelah menikah, daripada expert. Kenapa? Seseorang itu lebih terlihat romantisnya ketika dia pertama kali merasakan cinta. Kalau gagu, berarti dia memang benar menjaga izzahnya, menjaga dirinya. Kalau expert tiba tiba bisa semua, wah ni orang pengalamannya sudah banyak. Sama yang lain. Lebih baik bingung dimalam pertama. 

Suami: Ukhty,...
Istri Kok manggilnya masih ukhty? kan sudah halal.

Nah.......................... Ini baru keren. Dari pada pacaran, saat pacaran hanya tahu baek baeknya saja, ketika sudah nikah senyum hilang. Kata katanya habis saat pacaran.

Terlalu berani atau terlalu takut??

Adapula yang belum siap menikah, tapi memaksakan diri ingin menikah. Seperti halnya dalam hal biologis sudah mampu, namun dalam hal mental dia belum mampu, belum mampu memegang amanah berat dipundaknya. Seorang akhwat itu putri kesayangan dalam keluarganya, disekolah hingga mahasiswi bisa sampai ratusan juga, belum lagi kalau lahirnya caesar, baru lahir sudah 7juta. Lalu, ada ikhwan tiba tiba datang hanya modal nekat saja tanpa mau berusaha dulu mencari penghasilan. "Kan nanti ane ajarin puasa senin kamis tadz", kata si ikhwan. "Nggak sekalian daud?". Jangan, kita tidak boleh mendzolimi anak orang. Jika dulunya bapaknya yang membelikan baju, setelah menikah suaminya yang membelikan. dari kepala sampai kaki itu suami yang membelikan, semua tanggung jawab itu beralih pada suami. Lebih baik dia tetap dikurung di kamar, jadi wanita sholehah dari pada menikah ditelantarkan sama suaminya. Ini mau nyari istri, atau menjadi penyalur tenaga kerja?

Persiapan:
1. Ilmu dan mental
2. Niat yang benar
Orang yang ingin menikah untuk menjaga kesucian diri, ini diperhatikan oleh Allah
3. Perbaiki diri
Lihat surat An-Nuur ayat 26, Perempuan yang baik untuk laki laki yang baik, perempuan keji untuk laki laki yang keji

Terlalu takut itu, kalau sudah berkali kali ta'aruf tapi selalu ditolak setelah itu nyrlinya ciut. Padahal, allah sudah menjajikan kita pasangan masing masing. Ini imannya sedang naik turun, labil.

Tidak ada memang yang mampu mendefenisikan cinta secara pasti atau paten atau permanent. semua berhak mendefenisikan cinta. Namun, satu hal yang pasti bahwa cinta adalah suci. Cinta merupakan nutrisi

Cinta adalah kehidupan yang barang siapa mengharamkannya maka dia termasuk mayit. Cinta adalah cahaya yang barang siapa kehialngannya, maka dia di dalam samudera kegelepan. Cinta adalah obat penawar yang barang siapa tidak memilikinya, maka halal baginya semua penderitaan. Cinta juga kelezatan yang barang siapa tidak mendapatkannya, maka seluruh hidupny adalah kesedihan dan kesakitan.

Ibnu Abbas berkata,"Setan ada pada diri laki laki pada 3 hal, pandangan mata, hati dan zakar."
Begitu pula pada perempuan pandangan mata, hati dan kelemahan.

Cinta itu perlu akal sehat.
Sesungguhnya keistimewaan akal, mengutamakan yang lebih dicintai dan memilih yang lebih ringan bahayanya.

Ibnul Jauzi, "Sesungguhnya, keutamaan akal adalah dengan merenungi berbagai akibat. Adapun sedikitnya akal hanya memandang keadaan sekarang dan tidak memandang akibatnya nanti."

Orang cerdah adalah yang mampu mengendalikan nafsu dan beramal untuk hidup sesudah mati.

Maka bila belum bisa menikmati cinta, berpuasalah, berpuasalah, berpuasalah, dan jadikan sholatmu sebagai kesabaran.

Wallahu a'lam......
By: Ust. Burhan Sodiq dan Ust. Tri Asmoro

Nantika rekamannya di Youtube, asli buat ketawa dan merenung....




Jumat, 21 November 2014

Ayah Pinjamkan.....

Ayah Pinjamkan.....

Ayah pinjamkan aku pundakmu
Agar aku bisa merasakan amanah dipundakmu

Ayah pinjamkan aku tanganmu
Agar aku bisa merasakan tangan kerasmu mencari nafkah
Ayah pinjamkan aku kepalamu
Agar aku senantiasa berpikir seperti pola pikirmu

Ayah pinjamkan aku hatimu
Agar aku tahu apa yang tersembunyi dalam hatimu, ketika kelak kau melepasku

Ayah, pinjamkan aku matamu
Agar aku tak mudah mengeluarkan tangis saat berpisah darimu

Ayah pinjamkan aku sebentar saja, agar aku bisa merasakan apa yang  sedang engkau rasa

Rabu, 19 November 2014

Aku Bisa, Kamu Juga Pasti Bisa


Bismillah..
Tersadar di saat terlambat mempelajari nikmat Islam dalam hidup, merasa diri tak mampu lagi berubah. Ah, rasanya seperti kaki tak mampu lagi berjalan, kaki tak mampu laki menapak dunia. Begitu sulit kurasa….
Orang-orang sudah berada jauh di depanku untuk menyambut akhirat, tapi malah sibuk dengan dunia, sibuk dengan organisasi organisasi yang hanya membawaku sampai dunia saja, tak sampai ke akhirat.

Salah, ini salah itu yang kusadari. Lalu, ku mulai kembali berpikir, bagaimana caraku untuk mengejarnya? Begitu banyak yang ku tinggalkan. Ngajis, sedekah, bahkan sholat pun ku tinggalkan. Naudzubillah....
Alhamdulillah, atas kuasa Allah yang begitu besar, begitu banyak, begitu nikmat, Allah beri kesempatan terus menerus, kesempatan terus untuk belajar menambah ilmu pengetahuan atas agamaku sendiri, Islam.

Nikmat Islam yang dulu ku abaikan, selama 20 tahun ku abaikan, kini aku mulai mengejarnya kembali. Malu? Itu sudah pasti. Aku tak pernah malu pada manusia, tapi aku malu sama Allah. Malu atas Allah, yang telah memberi begitu banyak kenikmatan yang tak mampu ku hitung. Nafas, orang tua, materi berlimpah, dan seterusnya. Tak sanggup ku hitung.

Lalu apa kabar denganmu ? Masihkah kau ragu untuk berubah menjadi lebih baik? Rintangan memang banyak duhai saudara/i ku saying, namun Allah tak pernah membiarkan makhluknya bersedih, merasa sendiri, merasa kesulitan, tak pernah seperti itu.

Bila aku bisa, maka kamu pun bisa, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mari kita berhijrah. Menjemput hidayah, bukan menunggunya. ^^


Wallahu a'lam
NB: Bersambung. Tips Aku Bisa, Kamu Juga Pasti Bisa

Senin, 17 November 2014

Masih Jadi "Hijab Gede Eksklusif" ?



Bismillah....

Eksklusif, itu yang dulu saya sematkan pada akhwat yang berhijab besar, yang jalannya selalu menunduk, seakan tak ingin melihat dunia. Akhwat akhwat itu bagiku salah satu yang susah dideketin, susah diajak jadi teman. Iya, mereka punya pendirian, tapi pendiriannya kebablasan, hingga lupa ada saudarinya yang lain sedang butuh nasihatnya.

Kenapa saya mengatakan demikian? Mari, mengingat kembali, bahwa saya bukan terlahir dari lingkungan ahlussunnah, bukan lingkungan pesantren, bukan seorang anak kiyai atau ustadz, bukan pula lulusan pondok pesantren, pengenalan terhadap agamaku sendiri pas pasan. Saya juga dulu berhijab transparan yang kita sebut dengan hijab paris dan celana jeans, serta baju ketat yang membungkus tubuhku. 

Saat itu, tak ada satu akhwat pun yang mendekatiku selain pementor ku, walaupun saya bandel dan selalu menolak ajakan ajakannya, beliau tetap sabar. Namun sayang beliau sudah lulus dan tak bisa melanjutkan pendidikannya padaku. Setelah itu? Nol, tak ada satu akhwat yang berhijab besar pun mendekatiku, sekedar memberi nasihat? Tidak ada. Mungkin, saya juga salah tak mengikuti kajian kajian. Tapi, saya belum tahu dimana letak kebutuhan saya waktu itu, karena tak ada yang memberi tahu, tak ada nasihat yang terus menerus datang, tak ada satupun. Saya merasa buta waktu itu.

Kalau boleh dibilang sayang butuh pendakwah waktu itu, walaupun saya belum menyadari kalau saya butuh siraman nasihat. Lagi lagi tak ada yang ada memberitahu ku. Ketika saya sadar saya butuh, saya sendiri yang mencari. 

Mungkin itu pengalaman  saya dulu ketika mencari hidayah. Memang benar hidayah itu dicari, maka saya mencari. Namun, yang harus kita sadari adalah bukan hanya kita yang butuh hidayah, tapi orang orang yang belum sadar, membutuhkan hidayah yang sama. Bukankah ilmu yang kita dapat harus diamalkan dan disebar? Lalu bagaimana caranya kita menyebarkan ilmu itu,  tapi masih merasa diri ini "eksklusif" ? Saya yakin, dakwah kita tak sampai pada mereka. 

Lihat sekarang, bila kita hanya melingkar pada orang orang yang sama, yang sama sama berhijab besar. Mengikuti kajian bersama, bertilawah bersama, berhijab besar bersama, selalu bersama dengan orang yang ilmunya sama, ilmu itu nggak akan bisa kita sebar. Kenapa demikian? Karena kita salah menempatkan diri dan salah mengartikan dakwah. 

Dakwah kita kawan, akan sampai dengan memberikan cinta dan kedekatan yang erat pada saudara saudara kita. Memang benar, akhlak seseorang itu dilihat dengan siapa dia berteman. Namun ingatlah, mereka juga teman kita, sahabat kita, kewajiban kita adalah menyampaikan al-haq dengan firman firman Allah. Bagaimana caranya kita berdakwah, tapi kita enggan "tersenyum" pada mereka yang belum sadar? enggan mengulurkan tangan kepada mereka? enggan bersusah payah mengajak mereka berhijrah? Lalu untuk apa ilmu kita?

Jangan jadi muslimah eksklusif kawan, dakwah kita tak akan sampai jika masih seperti itu. Menganggap sinis mereka itu salah, salah besar. Mereka bisa saja lebih baik dari pada kita, ketika mereka berhijrah. Lihat para muallaf, mampu menjadi ustadz, hafidz. Kenapa ? Karena mereka mengenal nasihat dari cinta dan kedekatan. Mereka memang belum merasa butuh, maka kita adalah cahaya buat mereka. Cahaya pertama ketika mereka mengenal apa itu Islam sesuai dengan al-haq.

Maka cintailah juga mereka yang belum berhijrah, sesungguhnya mereka juga butuh nasihat. Apa kita menginginkan penghuni neraka terbanyak adalah wanita? Tak ada yang menginginkan seperti itu. Untuk itu kawan, ajaklah mereka ikut kajian kajian dengan sabar, dengan cinta, dengan kedekatan. Ajak mereka untuk menjadi salah satu saudaramu, karena mereka sebenarnya butuh. Jangan kita jauhi terus, untuk apa? Tugas kita adalah saling mengingatkan dengan ikhlas, ajaklah mereka dengan cinta, bukan dengan menjauhinya......

Afwan, mungkin sahabat sahabatku lebih paham tentang dakwah. Ini hanya pengalaman yang pernah kurasakan, ketika sulitnya mencari kebenaran tanpa pembawa kebenaran, pesanku sekali lagi.... Jangan jauhi mereka, karena mereka butuh saudari yang shalihah untuk mengajaknya bersama ke jannah...

Wallahu a'lam.....

Cinta At-Ta'abbud



Bismillah...
At-Ta'abbud atau penghambaan. Di mana hal itu merupakan tujuan akhir (puncak) dari sebuah cinta dan sebuah ketundukan. Tingkatan cinta yang ini hanya diberikan kepada Allah semata. 

Seberapa besar cinta kita padaNya? Sudah benarkah cinta yang kita berikan? Bagaimana cara mencintaiNya?

Allah berfirman:

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah ilah selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah." (QS. Al- Baqarah: 165)

Disebutkan pula dalam sebuah hadits, "Tiga perkara, yang barang siapa telah memenuhinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. Yaitu, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci jika kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta kepada Allah berarti cinta akan semua apa yang diperintahkanNya, sholat, berzakat, berpuasa, haji bila mampu, berilmu, mempelajari, mengamalkan Al-Qur'an, menjaga aurat dengan berpakaian syar'i. Lalu, menjauhi semua laranganNya. 

Seperti dalam syair An-Nuniyyah yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rakhimakumullah:
Syarat cinta adalah mencintai apa yang dicinta
Oleh orang yang engkau cintai, bukan malah membencinya
Bila engkau mengaku cinta kepadanya
Tapi engkau menentang apa yang dicintainya

Berarti cintamu adalah dusta
Tegakah engkau mencintai musuh orang yang engkau cinta
Sementara engkau tetap mengaku masih mencintainya
Sungguh hal itu tak mungkin adanya
Demikian juga...
Engkau tak mungkin membenci kekasih orang yang engkau cinta
Sungguh, mana cintamu wahai saudara setan yang sebenarnya
Ibadah itu tiada lain memurnikan cinta
Disertai ketundukkan hati dan seluruh anggota badannya

Hingga pada perkataannya:
Kami pernah melihat, sekolompok orang yang mengaku 
Islam, tapi kesyirikannya jelas terang terangan
Mereka membuat beberapa tandingan yang dicinta
bahkan mereka samakan mereka denganNya
bukan hanya dalam kekuasaan tapi cinta

LA ILLAHA ILLALLAH..........




 
Back To Top