TRENDING
Tampilkan postingan dengan label Hijrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijrah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2021

Jl. Masih Panjang (Part 1)

 




 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 Bismillahirohmanirohim, hi my dearest friends how are you? i hope you always healthy and happy. It's been a long time sinced my last blog i think. Sorry, begitu banyak onak dan duri dalam menulis. But now, i want to share my Hijrah yang juga penuh onak dan duri. 

2012

 Tahun dimana titik balik perjalanan hidup mulai kurasakan, seiring bertambahnya usia makin bertambah pula ujiannya, awalnya lebih cuek mulai banyak memikirkan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan, kesalahan apa yang sudah merenggut imanku menjauh dari hati? 

 Iya, saat itu saya masih gadis pada umumnya berjilbab seleher saja, masih bercelana ke kampus kemanapun saat halaqoh wajin dari kampus saja saya pakai rok. Berbagai masalah datang dan berbagai sahabat karena iman pun datang menyadarkan. 

 Saat itu usiaku masih 20 tahun, sedang sibuk-sibuknya praktik RS dan Skripsi. Tapi, saya sama sekali tidak merasakan kesusahan dalam hal itu, namun tetap saja hati ini cemas, mungkin karena dosaku.

 Sayangnya saya tidak bisa cerita masalah yang membuat saya berpikir kembali arti nafas gratis yang Allah berikan, cukup Allah yang mengetahui dan menyembunyikannya. Sungguh saat itu Allah sayang banget hingga mengirimkan orang-orang baik dikala masalah datang. 

 Pernah suatu malam saya menangis sejadi jadinya, menangis begitu dalam menangisi betapa Allah merindukan doa doa ku, merindukan sujud ku, merindukan lantunan ayat suci yang keluar dari lisanku, merindukanku. Ya, saya pun merindukanNya sangat amat, belum pernah dalam hidup serindu ini pada Kekasih Hati.

 Hari demi hari kupakai untuk merenungi semua dosa, semua khilaf yang Allah selalu sembunyikan dari teman temanku, keluargaku, Sunggu betapa Allah mencintaiku dan saya pun harus membalas cintaNya dengan berHIJRAH.

 Pernah dengar lagu Muhasabah Cinta dan Sendiri Menyepi dari Edcoustic lagu ini pun membantuku mengingatnya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi tak satupun saya membalasnya. Sedih? Sedih karena semakin bertambahnya usia maka makin dekat pula ajalku, itu berarti waktuku menipis untuk memohon ampun.

 Tahun dimana saya pun mulai merubah penampilanku, merubah total pakaianku bahkan caraku memandang setiap masalah dan menilai orang orang yang mampu membawaku dalam keimanan.

 Belum, saya belum langsung sempurna. Masih belajar di level 1 dalam berpakaian, teman sekelas pun mayoritas kaget dengan perubahanku, iya kelas itu masih hedonis hanya beberapa orang saja memang yang sudah lebih dulu berhijrah. Tentu saja saya mendapatkan ucapan ucapan bernada menghina akan perubahan penampilanku.

 Perempuan jika sudah berhijrah hal utama yang paling terlihat adalah penampilannya bukan? Mereka menghinaku secara terang terangan, ah! Masih sangat teringat jelas hingga saat saya menulis ini "Jilbab apa yang kau pakai? Bukan taplak meja kan?" saya tidak bisa membalasnya hanya senyum saja yang terlihat dalam diwajahku, meski kalian tahu? Saya menangisinya.

 Watak perempuan sesuai ciptaanNya penuh dengan kelembutan, maka ketika ada yang menghina dirinya karena mendekatkan diri pada Rabbnya pecah pula tangisannya di sepertiga malam tapi setelah itu saya kembali ceria, saya tahu karena membacanya dari buku para Sahabat Perempuan di Zaman Nabi, cobaanku ketika berhijrah belum ada apa apanya maka Sabr membuat saya makin dekat denganNya. 

 Tentu saja saya tidak berusaha berubah seorang diri, saya butuh teman menuju keimanan, butuh pembimbing untuk bertanya hal apa saja yang bisa mendekatkanku dengan CintaNya dan Masya Allah sambutannya luar biasa. Saya tidak akan melupakan jasa salah seorang teman sekelasku yang mengarahkan ke dalam halaqoh halaqoh yang tersebar di kampus, banyak ternyata tapi selama ini saya buta dengan maksiat sehingga yang halal tampak menjijikan dimataku Astagfirullah. 

2013

 Saat itu usiaku 21 tahun menuju sidang skripsi untuk meraih gelar sarjanaku di salah satu universitas swasta di Sukoharjo (mungkin teman teman ada yang tahu yah) saya semakin mantap menuju ke jalan yang Allah ridho alhamdulillah. 

 Jika ditanya apa tidak ada godaan? Banyak, selama masih bernafas selama itu pula hawa nafsu terus ada, terlebih lagi ujian dari keluarga, orangtua. Saya sudah dengar hal yang paling sulit ketika kita memutuskan berhijrah adalah menghadapi penilaian orang tua kandung. 


Bersambung...

Selasa, 29 Maret 2016

Cause you're Strong


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang dusta (munafik)."

Hmmmm, surat ini Surat Al-Ankabut, surat ke 29 di ayat 2 dan 3, saat hati lemah, iman sedang goyah ketika ujian yang Allah berikan berdatangan secara serempak dan tak mengenal waktu saya selalu coba mengingat ayat ini. Selalu... Ayat ini saya dapat ketika saya bertanya kepadaNya ketika saya mulai mengenal kembali siapa itu Yang Maha Esa

"Ya Allah, apakah harus saya? Kenapa harus saya ya Allah? Kenapa engkau pilih hambaMu yang lemah ini? Kenapa bukan orang lain? Kenapa saya berbeda? Kenapa Engkau berikan kpd ku? Kenapa ya Allah?"

Tak mendapatkan jawaban, lantas sy bertanya kepada teman di Klaten, bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan Allah secara langsung? Dia menyarankan, buka Qur'an secara acak dan ayat pertama yang terbaca maka itu JawabanNYA

Surat ini, adalah surat pertama yang melekat di hati, bukan karena hafalan tapi makna terdalam. Makna yang begitu berakar untuk menemani hijrah, menguatkan iman!

Ibarat sekolah, ketika kita akan naik kelas kita akan menghadapi ujian, semakin tinggi, semakin berat pula ujiannya. SD ke SMP, lalu ke SMA kemudian kuliah. Semuanya kita lalui dgn ujian. Hanya kita tak peka bahwa trnyta kita sdg naik level.

Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam pernah ditanya oleh Sa'ad bin Abi Waqqas

"Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)

Sama halnya dengan iman, Allah membedakan ummatnya dengan ujian, membedakan mana yang beriman dan mana yang tidak. Seperti dalan surat Ali Imran ayat 186, Allah berfirman

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan"

Sabar dan takwa adalah kunci problem solving (pemecahan masalah) berat atau tidak kunci jawabannya tetap sama "sabar dan takwa" inilah yang membedakan org beriman dan tidak.

Namun perlu kita ingat bahwa seberat beratnya ujian yang Allah berikan kepada manusia setelah Rasulullah dan para sahabat, tak ada apa apanya. Ujian kita hanya ujian 1:1jt beratnya. Begitu ringan, seperti kapas, tertiup angin dengan mudah dia melayang.

“Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya, baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya.” (H.R Bukhari)

Jadi tak ada alasan untuk kita merasa sedih, putus asa, menyerah, hingga berlarut larut. Allah tak suka hal itu. Sedih hal yang lumrah setelah itu bangkitlah.

Karena, Hei! Kita lah orang orang yang dipilih Allah untuk naik ke level lebih tinggi dengan hadiah kelulusan berupa rumah...,

Bukan, bukan sekedar rumah, lebih dari itu, Istana di Surga.

By: Ocnatias Eka Saputri, hamba yang lemah
IG: @tiasekaputri
IG My Outfit: @oescollection

Selasa, 08 Maret 2016

Jenis Jenis Nafsu



Dear shalihah
Aku, kamu, dia, mereka, binatang, tumbuhan, bahkan jin dan setan, semua makhluk yang Allah ciptakan memiliki nafsu kecuali para Malaikat.

Nafsu yang terdapat pada manusia adalah sejatinya merupakan ujian. Jika manusia mampu menguasai nafsunya bermakna dia telah berjalan mengatasi salah satu ujian Allah yang cukup berat ini.

Kenapa berat? Karena nafsu soulmatenya manusia. Allah sudah menciptakan kita sepaket dengan nafsu.

Sekiranya nafsu dididik ke arah kejahatan dan melalui arah yang jahat, maka nafsu akan menjadi jahat dan liar. Maka akan lahirlah orang yang pandai tetapi jahat, orang bodoh yang jahat, pemimpin yang jahat dan pendidik yang jahat. Banyak kan contohnya? Nggak perlu disebutin siapa kali yah hehehe. Maka nafsu yang tidak terkendalikan akan menjadi sebab kehancuran suatu bangsa.

Allah Ta'ala berfirman  “Mereka yang berjuang ke jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan jalan jalan Kami. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Surah al- Ankabut ayat 69)

Maka nafsu pun perlu di didik. Nafsu merupakan bagian diri, musuh internal manusia sementara setan musuh eksternal.

Nafsu merupakan musuh utama, kedua setelahnya barulah setan.

Untuk itu shalihah banyak yang bertanya kan?

"Kenapa sih Mbak bulan puasa godaannya banyak? Bukannya setan dipenjara saat ramadhan? Kenapa masih ada godaan yah?"

Nah loh, siapa yang pernah bertanya ngacung! Saya dulu pernah nanya juga sih hehe sama ustadzah dan saya masih ingat betul.

Ternyata memang benar setan dipenjara saat ramadhan tapi nafsu tidak. Nafsu tidak bisa dpenjara saat ramadhan. Nafsu tetap ada pada diri manusia, manusia terlahir dengan nafsunya. Nafsu merupakan ujian yang akan selalu ada pada manusia.

Dalam sirah ketika Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam  dan para sahabat balik dari perang Badar, Rasulullah bersabda :  “Kita kembali dari perang yang kecil menuju perang yang  besar.”

Para Sahabat lantas bertanya : "Apakah perang yang besar itu ya Rasulullah?”
Jawab Rasulullah : “Perang melawan nafsu.” (Hadis Riwayat Baihaqi)

Dear Shalihah
Dalam Al Quran, nafsu manusia  dibagi menjadi tiga jenis  :

1. Nafsu Ammarah Bisu'
Ini adalah nafsu yang paling buruk, akan selalu membawa manusia dengan mudahnya ke arah keburukan, kemaksiatan. Apabila ada pada diri manusia nafsu ini, maka manusia tersebut sangat susah diberi nasehat, sangat susah diketuk hatinya, sangat susah diajak menuju kebaikan.

Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Jika berbuat kejahatan, dia bangga dengan kejahatannya. Jika ada yang melarang dia akan berucap "Siapa yang berani melarangku, dia akan menanggung akibatnya" Serem yah kalau ada penguasa seperti ini, naudzubillahi min dzalik...

Maka mintalah sama Allah dan teruslah beristigfar semoga kita dijauhkan dari nafsu ini.

Next nafsu selanjutnya adalah

2. Nafsu Lawwamah
Ini adalah jenis nafsu yang labil. Kenapa demikan? Nafsu ini sudah paham baik buruk. Sudah paham mana yang Allah larang mana yang Allah perintahkan. Kadang dia berbuat baik, kadang dia jug berbuat buruk.

Setelah melakukan keburukan dia akan bertaubat, lalu melakukan keburukan lagi. Makanya saya sebut nafsu labil.

Contoh nih, seseorang yang baru hijrah masih labil kan? Kadang ada temen yang ngajak, padahal dia berusaha sekali untuk lepas dari dunia malam bersama yang bukan mahrom.

"Yuk nongkrong bareng malam minggu yuk, satnite bareng kiteee"

"Hayuk...."

Setelah itu dia bertaubat

"Astagfirullah, kenapa saya gini lagi yah? Maafkan hambamu yang lalai ya Allah"

Nah ini contohnya antara setan dan nafsu kolaborasi.

Namun, nafsu ini sebenarnya masih bisa dikendalikan dengan perbanyak istigfar dan berkumpul dengan sahabat sahabat shalih. Insyaa Allah sahabat yang baik nggak akan mengajakmu pada keburukan.

Okeeey,next nafsu terakhir, nafsu yang ditunggu tunggu,nafsu yang diimpikan. What? Ada yah nafsu yang diimpikan? Ada donk

3. Nafsu Muthmainnah
Nafsu yang membawa ketaatan kepada Allah, nafsu yang membuat tenang, nafsu yang ingin selalu dekat dengan Allah. Nafsu yang diimpikan semua manusia,karena nafsu ini membawa ridha Allah dunnya wal akhirah.

Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa cenderung melakukan kebaikan. Mereka mudah bersyukur dan qanaah  segala kesenangan dunia tidak akan membuat lupa diri, menerima qada dan qadar dengan ketenangan tanpa kegelisahan sebab hatinya begitu dekat dengan Allah.

Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia. Semoga Allah Ta'ala golongkan kita dalam nafsu yang hebat ini.

Lantas nafsu pula lah yang akan membawa kita pada kesuksesan. Oh bukan dia yang berhasil raih gelar doktor, bukan dia yang jadi pengusaha sukses, bukan dia yang mampu sekolah di kampus mentereng, bukan dia yang jadi penguasa, bukan dia yang punya duit segunung. BUKAN.

Orang sukses adalah orang yang melawan nafsu buruknya, menuju nafsu muthmainnah. Orang yang ridha atas ketapan yang Allah berikan. Sukses di Jannah! Ini baru sukses.

Nah bagaimana? Sudah tahu yah sekarang jenis jenis nafsu manusia. Jadi, berusahalah untuk menetapkan nafsu mutmainnah menjadi soulmate kita. Semoga kita masuk dalam golongan manusia dengan nafsu muthmainnah.

Kajian Pekanan Muslimah
Senin, 7 Maret 2016
Masjid Ibadullah Pabelan, Kartasura
IG: @oescollection

Senin, 18 Mei 2015

Berbahagialah Adikku...

".....Mbak, tahsinku nggak lulus :'( "

Bismillah,
Pagi ini saya dapat kabar dari salah satu adikku, tidak lulus dalam ujian tahsin setelah menjalani banyak proses sebelumnya, ia pun larut dalam kesedihan.

Apa yang bisa kita katakan sebagai seorang kakak dan teman?

"Alhamdulillah adikku shalihah, engkau telah menyelesaikan kuliah tahsin atas keinginanmu sendiri. Engkau sadar, menjadi muslim sejak lahir saja tak cukup untuk mampu menjadi muslim yang sebenarnya maka engkau pun belajar ilmu agama kembali termasuk belajar ilmu tajwid atau tahsin.

 Tak aneh bila kita gagal hanya sekali, justru itu sangatlah normal. Yang aneh apabila kita tak pernah terbesit keinginan apalagi mencoba belajar. 

Banyak orang diluar sana menyatakan 'saya muslim dan saya tentu bisa baca Al-qur'an,' tapi tahukah? Diantara mereka bahkan tak pernah terbesit sekalipun ingin belajar kembali ilmu tajwid yang pernah dipelajari lalu  terlupakannya dan itu jauh lebih salah, ketika kita sudah tahu namun kita lupa daripada orang yang tak paham sama sekali.

Alhamdulillah adikku, selangkah engkau lebih maju dalam memperbaiki diri, bekalmu ada dan sebenarnya engkau siap dan wajib untuk mengajarkan ilmu itu. 

Semoga Allah menjagamu, Allah tahu engkau sedang berusaha. Terakhir tawakal lah, dan teruslah belajar ilmu tajwid hingga Allah mengatakan 'selesai'."

Solo, 29 Rajab 1436H
Kakakmu, sahabat seperjuanganmu dalam hijrah, peluk sayang, peluk hangat.

Ocnatias Eka Saputri

Karena Allah pertemukan kita.

Berbahagialah dengan ilmu itu,  dan jangan bersedih karena gagal setelah belajar, tapi bersedihlah karena engkau tak pernah ingin mencoba belajar @tiazekaputri

Jumat, 15 Mei 2015

Saudariku, Kembalilah...

Ah sudah lah, sungguh...
Aku cinta kepolosan itu, keluguan itu, kesederhanaan itu, aku rindu... merindukannya.

Disaat aku tak ingin mengenal lebih dekat dengan dunia, tak akan ada rasa iri, cemburu, dengki, bahkan gengsi yang berlebihan.

Membuat lupa dan melupakan lugunya diri. Kesederhanaan yang membuat Allah lebih suka, lebih sayang, lebih cinta kepada hamba-Nya.

Aku terpana, tercengang pada bius dunia yang membuat si pecandunya merasakan terbang, memiliki sayap dan berkata "Hallooooo ini, aku ada sedang di hadapanmu. Lihatlah! " 

Hilang sudah, hilang. Ketika beberapa tahun sebelumnya aku mulai melihatmu dengan balutan syar'i dalam akun facebookmu dan aku ingin memanggil dan belajar darimu yang lebih dahulu hijrah, "Ukhty... maukah mengajariku menggunakan hijab seperti yang kau kenakan? Bagaimana caranya aku bisa sepertimu?" tapi saat itu aku tak berani.

Setelahnya benar aku merasa kehilangan, dirimu tak lagi sama. Kesederhanaan tanpa riasan wajah itu hilang diganti dengan sekelebat riasan arogan, itu bagiku saat melihatmu sekarang.

Arogansi dengan penuh gengsi itu muncul, kau bukan yang dulu yang membuatku terpana dan tercengang. "Kemana dirimu duhai ukhty nan shalihah... Kemana kau pergi? Tak ingin kah kau kembali dalam wujud sederhana seperti saat aku melihat busana syar'i mu?"

Goyah memang goyah, ketika hati sudah terbius ujian ujian mewah dunia. Tak ada satupun manusia yang menyatakan dirinya beriman tanpa di uji, meski ulama besar sekalipun. Apalagi kamu, aku yang tak ada apa-apanya.

Duhai saudariku tersayang, lihatlah ada banyak sahabat shalihah yang menantikan mu kembali, bersama dalam keanggunan syar'i yang jauh lebih sederhana dan indah.

Ingat, bagaimana Allah beri kenikmatan ibadah, kenikmatan saat kau benar-benar dekat dengan-Nya pada masa itu. Bertanyalah kembali pada hatimu, apa yang sedang kau rasakan? Tak rindukah kau pada masa indah itu? 

Aku rindu, kami rindu keanggunan dirimu dalam memahami al-haq.

Saudariku, kembalilah...

Saudarimu, yang merindu karena Allah
Ocnatias Eka Saputri

Selasa, 31 Maret 2015

Ukhty, Apakah Engkau 'Sakit' ?

Bismillah,
Mataku kembali terbangun, ketika rasa resah muncul dalam dada. Panas rasanya.

Saya teringat zaman sebelum hijrah, ketika saya masih sering mengupload foto berniat untuk memperbanyak 'like' dari kaum Adam. Di awal-awal hijrah pun saya terkadang masih sering mengupload foto. Astagfirullah... 

Dahulu, saya berhenti untuk menguploadnya berawal dari beberapa teman sesama perempuan di kampus, yang jarang sekali mengupload foto, dipikiran saya mereka lah yang saya tiru. Ternyata saya salah meniru, kembali lagi mereka hanyalah manusia. Mereka juga masih sering mengupload fotonya, bahkan saya pun ingin foto saya diupload lagi. Tapi saya kudu kuat, harus.

Tak jarang saya sering menanyakan mereka ketika sedang asyik mengupload foto di sosial media, entah dengan niat apapun. Tapi bagi saya tetap saja bisa terlihat oleh kaum Adam yang bukan suamimu, apalagi dalam akunmu teman pria yang hanya sebatas teman atau bahkan ada yang tak dikenali asyik berlenggak lenggok menyusuri berandamu. Karena dunia maya adalah duni terluas dan 'semau gue'. Maka dengan sadar saya sering bertanya atau sering ikut komen di salah satu foto yang di uploadnya , "Ukhty sedang sakit?"

Jelas nggak direspon (maaf bila membuatmu tersinggung). Saya ingin mengingatkan lewat inbox, tapi kok rasanya saya ini masih kalah dalam perihal belajar agama di banding mereka yang sudah lebih dulu. Ibaratnya saya ini orang baru. Saya bingung, bagaimana menegur seseorang yang sudah lebih banyak pemahamannya daripada saya si fakir ilmu.

Oh ya, lagi-lagi saya teringat. Mereka juga manusia, mereka yang berhijab syar'i juga manusia, mereka yang pandai berbahasa Arab juga manusia, mereka yang indah bacaan Qur'annya juga manusia, benar mereka manusia yang tercipta dari tanah punya nafsu dan biangnya salah.

Untuk apa saya ragu dalam saling mengingatkan, bukannya esok ketika saya berbuat salah saya juga akan diingatkan? Setidaknya itu yang membuat saya termotivasi untuk saling mengingatkan. Bukankah itu gunanya saudara?

Ukhty, apakah anti sedang 'sakit'? Semoga lekas sembuh.

Semoga tulisan ini sudah mampu 'menyentuhmu' meski hanya sedikit saja, karena saya yakin ilmumu mengenai ini sangat banyak, dan anti sebenarnya adalah sosok yang dulu saya jadikan contoh serta mengetahui mana yang terbaik untuk seorang muslimah. 

Wallahu a'lam

Maaf, dari saudarimu yang fakir akan ilmu. 

Maaf, dari saudari yang menyayangimu karena Allah.

Ocnatias Eka Saputri

Senin, 30 Maret 2015

Ketika 'Mereka' Bertanya tentang Kerudung Syar'i

Sungguh ini hal yang baru di gerbong kereta, beberapa hari yang lalu, tepatnya hari kamis kemarin saya sedang dalam perjalanan ke kampus seperti biasa lagi, lagi dan lagi dengan kereta.

Alhamdulillah di tiket saya dapat kursi. Saat itu gerbong yang sempati penuh sekali, sesak.

Dihadapan saya ada ibu kira-kira seusia mamah saya, ibu ini serombongan naik keretanya. Ngobrol lama dengan beliau ternyata beliau adalah seorang advokad. Ibu ini sedang dalam perjalanan menuju stasiun maguwo untuk bertolak dengan menggunakan pesawar ke Makassar, katanya sih ada kegiatan musyawarah nasional terkaiy profesi mereka, pemilihan ketua profesi advokad. Yaa kalau di perawat ada PPNI, dokter ada IDI, bidan ada IBI, apoteker ada IAI, guru ada PGRI dan seterusnya.

Ibu ini ternyata seorang nasrani. Dihadapan kami ada seorang mahasiswi profesi apoteker salah satu PTS di Solo dan bukan PTS saya dahulu hehe. Mbak ini asli Palu, akan bertolak ke Makassar juga. Mbaknya ini juga berkerudung, lebih tepatnya membungkus, bukan menutupi.

Ibu tadi bertanya dengan sopan pada Mbaknya yang berdiri,
"Mbak, setahu saya maaf yah bukankah dalam Islam jilbabnya Mbak itu hanya sekedar membungkus yah? Lekuk tubuh yang terlihat seperti itu bukannya nggak boleh yah?"

Mbaknya menjawab dengan ragu, "Iya sih bu, tapi saya lagi proses kok bu. Harusnya kerudungnya seperti Mbaknya ini (seraya menunjuk saya)"

"Nah iya Mbak, setahu saya loh yah nggak boleh ada lekuk tubuhnya kata masih membuat gimana gitu, iya nggak pak?" Tanya ibu itu pada salah seorang teman laki-lakinya yang sedari tadi berdiri.

"Iya Mbak, marai (read: buat 'dalam bahasa jawa') gimana gitu..." Kata si bapak temana ibu tadi.

"Nah kan Mbak, teman saya saja masih bilang seperti itu kok." Tambah ibunya.

"Iya bu, saya masih proses menutup." Lirih Mbaknya.

"Yang mana yang bener Mbak?" Giliran saya ditanya oleh ibu tadi.

"Iya bu, jadi gini (Bismillah....) dalam Islam wajib seorang wanita yang sudab haid menutup seluruh auratnya dan bukan membungkusnya. Ini adalah kewajiban dan bukan pilihan. Siap tidak siap kami wajib menutupnya. Ini bentuk taat kami kepada Sang Pencipta. Mbaknya ini memang salah dalam menggunakan kerudung tapi lagi-lagi kata Mbaknya tadi, dia sedang proses berkerudung sebagaimana yang ada dalam kitab kami. Dan satu hal yang perlu saya, dan ibu serta semua orang pahami adalah, wanita dalam Islam itu diwajibkan menutup auratnya, dalam Islam  siapa pun yang menutup aurat belum tentu ia bisa dikatakan taat atau sholehah, namun taat dan sholehah sudah tentu mereka yang menutup auratnya sesuai dengan tuntunan yang ada." Jelasku perlahan.

"Oh jadi begitu yah Mbak, loh Mbaknya kapan berkerudung kayak Mbaknya ini?" Tanya ibu itu lagi dengan Mbaknya yang berdiri.

"Yaa lagi proses bu hehe, semoga bukan hanya ngikutin model." Jawab Mbaknya.

"Saya dulu juga berawal dari celana jeans loh bu untuk mencapai sekarang ini, dahulu itu karena ingat mati. Siapapun mereka yang ingat mati pasti akan lebih dekat dengan Allah, Sang Pencipta." Tambahku.

"Iya yah Mbak, itu kayak Dian Rainbow (nama samaran sengaja hehe), itu kan masih model model, sekedar membungkus saja." Ujar si Ibu tadi.

"Iya bu, benar. Itulah kesalahannya. "

Nah, silahkan Muslimah simpulkan sendiri... saran saya menghadap lah ke cermin ketika sedang menggunakan kerudung yang selalu engkau gunakan...

By: Ocnatias Eka Saputri

Senin, 05 Januari 2015

Enggan Berhijab Syar'i, Takut Salah





"Aku belum siap yas, kalau harus berhijab seperti kamu. Aku masih suka boncengan sama cowok. Kan gimana gitu kalau diperhatin orang. Hijabnya besar tapi masih suka boncengan sama cowok yang bukan siapa-siapanya. Aku nggak mau lah agamaku, Islam dihina hanya gara-gara hijab yang nempel ini belum bisa aku bawa kemana-mana. Jadi tiap kali boncengan sama cowok, aku lepas hijabku"
Curahan hati nih, masuk ke saya. Mungkin, tidak sedikit yang seperti demikian yah.
Mari kita carikan solusinya.

Bismillah,
Saudariku shalihah. Hijab bukan lah sebuah hak yang boleh dipilih akan melakukannya atau tidak, namun hijab bersifat wajib dan hak kita adalah menunaikannya. Maka, harus dilakukan bagaimanapun kondisinya. Bahkan, bila kita sudah berada di tanah bersiap kembali kepada Sang Pencipta Yang memberi hidup dan mengambil hidup. Mengafani untuk perempuan jelas berbeda dengan laki-laki, aurotnya benar-benar diperhatikan. Apakah kita harus menunggu Allah mencabut nyawa kita dulu baru setelah itu ditutup seluruh tibuh kita dengan kain putih bernama kafan ? Tentu kita tidak mau saudariku.
Seseorang yang berhijab besar belum tentu baik, bersih, suci, shalihah, karena masih terus belajar untuk menjadikkannya shalihah. Bila Allah masih memberi kita nafas, tak ada kata berhenti belajar untuk seorang muslim/ah. Karenanya berhijab besar adalah proses menuju ketaatan kita. Tak serta merta dengan berhijab besar maka rumah di surga telah siap, namun dengan berhijab besar setidaknya bata demi bata kita bangun dengan perlahan untuk rumah kita di surga kelak.
Jangan salahkan Islam nya, namun salahkan muslim/ah. Karena definisi keduanya jelas berbeda. Ini yang perlu diluruskan. Islam sudah mengatur sedimikian rupa agar baik bagi pengikutnya, yakni bagi mereka yang bertauhid atas nama Allah. Allah tak pernah salah menurunkan firman-firmanNya, ALLAH MAHA BENAR. Sementara muslim atau muslimah hanya pengikut, bagian dari makhluk Allah. Kesalahan adalah sifat manusia. Itu murni.
Maka dengan berhijab besar, otomatis dengan sendirinya kita akan menjauhi apa yang Allah larang, karena sifat malu yang begitu di dambakan oleh seorang muslimah akan menghiasi sedikit demi sediit dirinya.
Jadi, apabila hingga sekarang kita masih enggan berhijab besar atau bahkan enggan mencobanya, selamanya sifat malu itu tidak akan hadir, shalihah itu tidak hadir, kelembutan itu tidak hadir, keanggunan itu tidak hadir, bahkan kemuliaan kita sebagai wanita yang dalam Islam begitu dihormati tidak akan hadir pada diri kita. Selamanya pula, wanita hanya akan jadi obyek pelampiasan syahwat seperti pada konsep kaum liberal.
Kesimpulannya bila kita melepas hijab maka sifat malu akan hilang, namun sebaliknya bila terus kita istiqomah mempertahankan hijab, lambat tapi pasti sifat malu menjadi perhiasan berharga yang menghiasi langkah anggunmu
Wallahu a'lam
Berhijab syar'i lah saudariku, sama-sama belajar. Kita memang akan terasingkan, namun kita tak akan pernah lagi merasa sendiri, karena Allah dan Rasullah akan bersama kita 

 
Back To Top