TRENDING
Tampilkan postingan dengan label rihlah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rihlah. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2021

SUPERWIFE (Buku Antologi)

   

 


    Assalamu'alaikum kawan tersayang, mari kuperkenalkan dengan anak keduaku. Sebelumnya aku ingin memberitahukan pada kalian, bahwa anak keduaku lahir tanpa rencana, hanya niat saja untuk membuatnya. terlahir di tengah hiruk pikuk keraguan dalam hati, apakah bisa aku melewati segala prosesnya tanpa rasa sakit, dan kecewa. Perlu kawan ketahui, bahwa kelahirannya adalah anugerah, dan berkah tersendiri buatku, kelahirannya membawa kembali diriku yang lama hilang, berkelana entah kemana.

            Aku bersyukur kepada mereka yang telah membantuku melewati semua proses, segala motivasi yang selalu datang dari kekasihku, tanpa ridhonya mungkin semuanya tidak akan terjadi, karena ridhonya sama dengan ridho Yang Maha Kuasa.

            Baik, tanpa butuh satu paragraf lagi aku perkenalkan, dan persembahkan anak keduaku, karya keduaku, masih dengan genre non fiksi, dan masih bersama menulis dalam tim (antologi), membagi kisah nano-nano dari para istri. Rasa nano-nao yang di kemas semenarik mungkin, membawa pembaca untuk terus membaca, merasakan kehadiran para penulis dalam setiap kisahnya, karena kisah mereka bisa jadi adalah kisahmu juga.

            Superwife hadir membawa kehangatan untuk para wanita, calon istri, istri dan bahkan calon ayah dan para ayah, untuk melihat dari berbagai sisi mengenai kehidupan wanita, setelah berstatus istri. Saat disayangkan, nyatanya tidak akan pembaca temukan tips pasti dalam buku ini, hanya kisah-kisah yang membawa inspirasi dan motivasi untuk melihat dunia istri yang semakin luas.

            Well, penasaran bagaimana isinya? Miliki segera SUPERWIFE Jilid 2, karya Tim Nulisyuk Batch 62.

           

 


Rabu, 13 Januari 2021

Jl. Masih Panjang (Part 1)

 




 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 Bismillahirohmanirohim, hi my dearest friends how are you? i hope you always healthy and happy. It's been a long time sinced my last blog i think. Sorry, begitu banyak onak dan duri dalam menulis. But now, i want to share my Hijrah yang juga penuh onak dan duri. 

2012

 Tahun dimana titik balik perjalanan hidup mulai kurasakan, seiring bertambahnya usia makin bertambah pula ujiannya, awalnya lebih cuek mulai banyak memikirkan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan, kesalahan apa yang sudah merenggut imanku menjauh dari hati? 

 Iya, saat itu saya masih gadis pada umumnya berjilbab seleher saja, masih bercelana ke kampus kemanapun saat halaqoh wajin dari kampus saja saya pakai rok. Berbagai masalah datang dan berbagai sahabat karena iman pun datang menyadarkan. 

 Saat itu usiaku masih 20 tahun, sedang sibuk-sibuknya praktik RS dan Skripsi. Tapi, saya sama sekali tidak merasakan kesusahan dalam hal itu, namun tetap saja hati ini cemas, mungkin karena dosaku.

 Sayangnya saya tidak bisa cerita masalah yang membuat saya berpikir kembali arti nafas gratis yang Allah berikan, cukup Allah yang mengetahui dan menyembunyikannya. Sungguh saat itu Allah sayang banget hingga mengirimkan orang-orang baik dikala masalah datang. 

 Pernah suatu malam saya menangis sejadi jadinya, menangis begitu dalam menangisi betapa Allah merindukan doa doa ku, merindukan sujud ku, merindukan lantunan ayat suci yang keluar dari lisanku, merindukanku. Ya, saya pun merindukanNya sangat amat, belum pernah dalam hidup serindu ini pada Kekasih Hati.

 Hari demi hari kupakai untuk merenungi semua dosa, semua khilaf yang Allah selalu sembunyikan dari teman temanku, keluargaku, Sunggu betapa Allah mencintaiku dan saya pun harus membalas cintaNya dengan berHIJRAH.

 Pernah dengar lagu Muhasabah Cinta dan Sendiri Menyepi dari Edcoustic lagu ini pun membantuku mengingatnya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi tak satupun saya membalasnya. Sedih? Sedih karena semakin bertambahnya usia maka makin dekat pula ajalku, itu berarti waktuku menipis untuk memohon ampun.

 Tahun dimana saya pun mulai merubah penampilanku, merubah total pakaianku bahkan caraku memandang setiap masalah dan menilai orang orang yang mampu membawaku dalam keimanan.

 Belum, saya belum langsung sempurna. Masih belajar di level 1 dalam berpakaian, teman sekelas pun mayoritas kaget dengan perubahanku, iya kelas itu masih hedonis hanya beberapa orang saja memang yang sudah lebih dulu berhijrah. Tentu saja saya mendapatkan ucapan ucapan bernada menghina akan perubahan penampilanku.

 Perempuan jika sudah berhijrah hal utama yang paling terlihat adalah penampilannya bukan? Mereka menghinaku secara terang terangan, ah! Masih sangat teringat jelas hingga saat saya menulis ini "Jilbab apa yang kau pakai? Bukan taplak meja kan?" saya tidak bisa membalasnya hanya senyum saja yang terlihat dalam diwajahku, meski kalian tahu? Saya menangisinya.

 Watak perempuan sesuai ciptaanNya penuh dengan kelembutan, maka ketika ada yang menghina dirinya karena mendekatkan diri pada Rabbnya pecah pula tangisannya di sepertiga malam tapi setelah itu saya kembali ceria, saya tahu karena membacanya dari buku para Sahabat Perempuan di Zaman Nabi, cobaanku ketika berhijrah belum ada apa apanya maka Sabr membuat saya makin dekat denganNya. 

 Tentu saja saya tidak berusaha berubah seorang diri, saya butuh teman menuju keimanan, butuh pembimbing untuk bertanya hal apa saja yang bisa mendekatkanku dengan CintaNya dan Masya Allah sambutannya luar biasa. Saya tidak akan melupakan jasa salah seorang teman sekelasku yang mengarahkan ke dalam halaqoh halaqoh yang tersebar di kampus, banyak ternyata tapi selama ini saya buta dengan maksiat sehingga yang halal tampak menjijikan dimataku Astagfirullah. 

2013

 Saat itu usiaku 21 tahun menuju sidang skripsi untuk meraih gelar sarjanaku di salah satu universitas swasta di Sukoharjo (mungkin teman teman ada yang tahu yah) saya semakin mantap menuju ke jalan yang Allah ridho alhamdulillah. 

 Jika ditanya apa tidak ada godaan? Banyak, selama masih bernafas selama itu pula hawa nafsu terus ada, terlebih lagi ujian dari keluarga, orangtua. Saya sudah dengar hal yang paling sulit ketika kita memutuskan berhijrah adalah menghadapi penilaian orang tua kandung. 


Bersambung...

Selasa, 07 April 2015

Menjadi Pengantin Penuh Berkah

Bismillah...
Ketika ada wanita ditanya ingin pernikahan seperti apa, ia ingin sekali pernikahan megah di gedung yang mewah, baju pengantin yang berkilauan, diiringi arak arakan pengantin, makanan yang berjejer, hingga tamu undangan yang bahkan ia tak kenal pun hadir -_-".

Tapi disisi lain, tak sedikit wanita yang berharap pernikahan sederhana berbalut syar'i, terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan, tak ada musik berisik yang berdendang, bertempat dirumah sederhana, yang penting Allah ridha itu sudah cukup, jauh dari sarana untuk berfoya-foya. Tamu yang diundang dikenal atau bahkan ingin anak yatim merasakan kebahagiaan yang dirasakan si pengantin. Bukankah itu lebih indah?  Bahkan bila memang mampu, sisa uang walimahan bisa disumbangkannya untuk muslim di negara yang sedang membutuhkan kita, bukankah inilah yang seharusnya menjadi impian pengantin?

Yang penting Allah ridha, ingatkah kita dengan sifat zuhud luar biasa dari Rasulullah salallahu 'alaihi wasalam? Mungkin kita tak bisa 100% seperti beliau, tapi dialah sosok yang patut kita contoh.

Bukankah akan indah dan penuh berkah pernikahan itu? 

Duhai wanita, duhai para orang tua sederhanakanlah semuanya in syaa Allah lebih berkah, dan Allah akan hadir dalam pernikahan yang penuh dengan kesederhanaan bukan dalam kemewahan.

Semoga impian impian itu bisa terlaksana untukmu muslimah

Aamiin Allahumma Aamiin

Rabu, 28 Januari 2015

Wanita, Ibunda Fajar Islam

Wanita, Ibu Fajar Islam

Sungguh benar ungkapan seorang penyair,

Ibu adalah madrasah
Bila engkau mempersiapkannya dengan baik
Berarti engkau telah mempersiapkan suatu generasi yang mulia

Ibu adalah taman
Bila engkau rajin menyiramnya
Maka ia akan tumbuh subur dan lebatlah dedaunannya

Ibu adalah guru
Guru dari segala guru
Jasa-jasa besarnya menyelimuti seluruh cakrawala

Wanita merupakan ibu-ibu yang telah melahirkan fajar Islam. Kebesaran Islam menjulang karena jasanya. Kekuatan Islam terbangun karena perannya. Berkat mereka, kemuliaan Islam tersebar luas dan pilar-pilarnya tertancap dengan kokoh. Itulah gambaran peran kaum ibu di masa-masa keemasan Islam dahulu. Mereka adalah persemaian kehormatan yang bebas, kemuliaan yang orisinal dan keagungan yang kokoh.

Perjuangan mereka tak pernah berhenti bahkan ketika telah wafat. Perjuangan mereka dilanjutkan kepada setiap wanita mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Pertanyaanya sekarang, sejauh mana kita sebagai wanita telah mempersiapkan diri menerima tongkat estafet selanjutnya ?

Sejauh mana ?

Ketika kita masih "dingin" terhadap aturan Allah, maka bisa dibilang kita belum siap menjadi penerus perjuangan para ibunda kaum mukmin. Bahkan bila kita sudah menikah dan punya anak.

Sudahkah engkau bertanggung jawab atas kehormatan dirimu ?
Sudahkah hijabmu menjulur menutupi cantikmu?
Sudah "rapi" kah pergaulannmu dengan lawan jenis?

Maka bercerminlah, sudahkah kita mengikuti teladan sejati, ibunda kaum mukmin ?

Wallahu a'lam
7 Rabiulakhir 1436 H

Senin, 05 Januari 2015

Tips Senang Semangat Tilawah




Bismillah...
Tips ini hadir dan diuji coba pada diri sendiri, alhamdulillah bermanfaat. Sekarang, giliran anda

1. Gunakan mushaf berukuran besar, tulisanya besar | agar mata tidak lelah atau mudah ngantuk

2. Gunakan mushaf terjemahan dan mushaf tanpa terjemahan | jadi sesekali kita melihat artinya, membuat penasaran. "apa sih artinya?" sering bertanya seperti itu kan? :D

3. Dengerin murotal sebelum tilawah | mengguggah semangat, dengan mendengarkan suara yang merdu dulu sebelum  mendengar suara sendiri yang "pas pasan" hehe 

4. Jangan bertilawah ketika mengantuk atau lelah | akibatnya fatal, malah jadi males tilawah dan bersifat keterusan.

5. Tilawah setelah mandi | beneran ! fresh banget dan tentu lebih bersih

6. Tidak usah ngebut bertilawah, gunakan metode sedikit, perlahan namuan sering | apalagi untuk yang ingin bertilawah lagi dari "cuti panjang" alias males berkepanjangan 

7. Tempatkan mushaf di kamar tidur, meja belajar, ruang keluarga, ruang tamu, dalem tas | ngebantu banget untuk ingetin "hutang" tilawah untuk Allah. 

8. Tilawah di dalam kamar *menyendiri" | agar lebih khusyuk, dan dapet manfaat ketenangan dari bertilawah.

9. pilih mushaf yang berwarna cerah, ceria | membantu menyegarkan mata

10. Ikutin kuliah tahsin/tajwid *belajar ilmu tajwid* | manambah semangat ingin lagi, lagi, dan lagi bertilawah.

11. Jangan menggunakan gadget ketika bertilawah | bahaya, malah buka facebook, whatsapp atau ngegame, malah nggak jadi tilawah.

12. Berkumpul dengan orang-orang yang menjadikan tilawah kebutuhan hidup | tanpa tilawah hidup terasa hampa

13. Perbaik niat adalah yang utama

Selamat mencoba, maaf ala kadarnya. 
#PengalamanPribadi #Coba2Bermanfaat

Kamis, 04 Desember 2014

Menjemput Kematianku


Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Shubuh mengumandang memanggil untuk menghadap Sang Maha Kuasa. Tepat 03.59 WIB, aku siap menghadapNya. Selesai dari menghadapNya, hatiku riuh tiba-tiba saja bertanya-tanya. "Ya Allah, kapan Engkau benar-benar memanggilku? Bagaimana caranya Engkau memanggilku?"
Aku tak ingin menerka-nerka, sungguh bukan kuasaku. Aku tetap ingin berprasangka baik. Bahwa kematian bisa datang pada siapa saja, dimana saja, kapan saja, dan Allah Maha Mengetahui Yang Terbaik. Sekarang yang harus aku khawatirkan, bagaimana aku harus menjemput kematianku?

Sama halnya dengan jodoh dan rezeky, kematian. Allah sudah mempersiapkannya untuk ku, sudah tertulis di Lauhul Mafuz jauh sebelum aku lahir. Aku hanya tinggal menjemputnya.

Aku takut, persiapanku untuk menjemputnya belum cukup. Bagaimana esok ketika kematian itu datang padaku, apa yang sudah ku persiapkan? Sementara aku di dunia saja masih seperti ini. Kurang, sangat kurang persiapanku.

Aku jadi teringat, dulu mana pernah aku mengingat pemutus segala nikmat. Betapa egoisnya aku dulu, tak sedetik pun aku mengingat kematian yang siap menghadang. Lihat sekarang, aku menyesal. Aku telah membuang 21 tahun tanpa mengingat mati, ya Allah betapa bodohnya hambaMu ini.

Ya Allah, bantu aku. Air mata terus membasahi mukena yang menemaniku, seakan mukena ini tahu bahwa aku sedang tak ingin sendiri.

Berkali-kali aku istigfar, memasrahkan diri. Bahwa kematian tak akan menungguku tua renta, maka aku haruslah memperbaiki diri, memperbaiki akhlak, beramal tanpa kenal lelah. Ini jalanku untuk menjemput kematianku.

Tanpa mengingat mati, hidupku begitu gersang. Aku hidup berkecukupan, dengan banyak kenikmatan melingkariku. Namun, tetap saja ada yang kurang. Ada sesuatu yang kurang. Ah ya, kematian.

Air mataku terus mengalir, aku kembali beristigfar. Memohon ampunan, bahwa keabadian hanya ada padaNya. Pada Allah saja.

Aku sekarang sedang menjemput kematian, menjemput usainya kenikmatan duniawi. Aku hanya ingin ketika kelak aku menghadapi sakaratul mautku, perkenankan aku ya Allah, perkenankan aku mengucap kalimat tauhidMu, perkenankan aku menghadapMu lengkap dengan hijabku dalam keadaan usai berwudhu. Indahnya...

Selasa, 18 November 2014

Sebentar Saja

Bismillah

"......dan sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu (akhirat) adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." (Al Haj: 47)

Dalam ayat ini dijelaskan, perbandingan waktu 1 hari (waktu akhirat) = 1000 tahun (waktu dunia)

Wah, itu maksudnya gimana yah? Kok cepet banget.

Begini,
½ hari = 500 tahun
6 jam = 250 tahun
3 jam = 125 tahun
1,5 jam = 61 tahun

Jadi, jika seseorang berumur sampai 63 tahyn seperti rasulullah salallahu 'alaihi wasalam waktu di akhiratnya kurang lebih hanya 1,5 jam saja.

Kebayang tidak? Kehidupan kita di dunia itu sangat sangat sangat sebentar atau singkat, dibandingkan dengan kehidupan kita di akhirat kelak.

Makanya, Rasulullah pernah bersabda: " Bahwa hidup di dunia ini bagai seorang musafir yang berhenti berteduh di bawah pohon lalu melanjutkan perjalanan jauh. Untuk itu dibutuhkan amal kebaikab yang banyak sebagai bekal, di perjalanan yang jauh.

Untuk itu, pergunakanlah waktu kita di dunia semata mata hanya beribadah, mengumpulkan amal kebaikan  sebanyak banyaknya agar menjadi bekal ketika di akhirat.

Wallahu a'lam

Senin, 17 November 2014

Cinta At-Ta'abbud



Bismillah...
At-Ta'abbud atau penghambaan. Di mana hal itu merupakan tujuan akhir (puncak) dari sebuah cinta dan sebuah ketundukan. Tingkatan cinta yang ini hanya diberikan kepada Allah semata. 

Seberapa besar cinta kita padaNya? Sudah benarkah cinta yang kita berikan? Bagaimana cara mencintaiNya?

Allah berfirman:

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah ilah selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah." (QS. Al- Baqarah: 165)

Disebutkan pula dalam sebuah hadits, "Tiga perkara, yang barang siapa telah memenuhinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. Yaitu, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci jika kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta kepada Allah berarti cinta akan semua apa yang diperintahkanNya, sholat, berzakat, berpuasa, haji bila mampu, berilmu, mempelajari, mengamalkan Al-Qur'an, menjaga aurat dengan berpakaian syar'i. Lalu, menjauhi semua laranganNya. 

Seperti dalam syair An-Nuniyyah yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rakhimakumullah:
Syarat cinta adalah mencintai apa yang dicinta
Oleh orang yang engkau cintai, bukan malah membencinya
Bila engkau mengaku cinta kepadanya
Tapi engkau menentang apa yang dicintainya

Berarti cintamu adalah dusta
Tegakah engkau mencintai musuh orang yang engkau cinta
Sementara engkau tetap mengaku masih mencintainya
Sungguh hal itu tak mungkin adanya
Demikian juga...
Engkau tak mungkin membenci kekasih orang yang engkau cinta
Sungguh, mana cintamu wahai saudara setan yang sebenarnya
Ibadah itu tiada lain memurnikan cinta
Disertai ketundukkan hati dan seluruh anggota badannya

Hingga pada perkataannya:
Kami pernah melihat, sekolompok orang yang mengaku 
Islam, tapi kesyirikannya jelas terang terangan
Mereka membuat beberapa tandingan yang dicinta
bahkan mereka samakan mereka denganNya
bukan hanya dalam kekuasaan tapi cinta

LA ILLAHA ILLALLAH..........




 
Back To Top