TRENDING
Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2021

Jangan Bajak Nama Kartini


Jangan Bajak Nama Kartini
 
Oleh: Siti Nafidah Anshory, SP., M.Ag.

Bagi kalangan pegiat emansipasi, sosok Kartini dianggap pas untuk merepresentasi perjuangan pembebasan perempuan. Tapi benarkah?

Kartini memang perempuan cerdas yang memiliki bacaan jauh ke depan. Bacaan yang jauh melebihi bacaan perempuan kebanyakan di masanya. Masa di mana perempuan tak mendapat tempat semestinya, bukan hanya dalam posisinya sebagai perempuan, tapi juga dalam posisinya sebagai manusia.

Ya, Kartini memang punya begitu banyak keresahan. Melihat akal perempuan dibelenggu oleh adat peninggalan nenek moyang. Dan naluri dibungkam oleh dogma tentang kepatuhan dan stratifikasi manusia berdasarkan keturunan.

Inilah yang Kartini pikirkan. Namun, benarkah Kartini suarakan pembebasan perempuan sebagaimana kaum feminis hari ini menyuarakan?

Jika jujur membaca sejarah berikut surat-surat Kartini, maka kita akan temukan bahwa Kartini adalah perempuan yang sepanjang hayatnya penuh dengan pegulatan ideologi.

Pertemanannya dengan Keluarga Abendanon, sempat membuatnya terkagum pada kehidupan bebas perempuan Barat, bahkan nyaris menjadi alat politik sekularisasi kompeni.

Lalu, persahabatannya dengan Stella dan keluarga Van Kol, juga nyaris membuatnya meninggalkan Islam dan mengadopsi nilai-nilai Kristen dan Sosialisme.

Namun, saat dahaga pemikirannya tersentuh oleh keindahan ajaran-ajaran Islam, Kartini mulai menampakkan kebanggaannya pada jati dirinya sebagai muslimah.

Hingga beliau yakin, tak salah menjadikan Islam sebagai spirit perjuangannya meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan.

Lihatlah apa yg ditulis Kartini. Jika di awal pergulatannya Kartini begitu memuja Barat dengan menulis:

“Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; Orang baik-baik meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi; dan mereka meniru yang tertinggi lagi yaitu orang Eropa.” (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899).

Atau pujiannya pada Belanda:

“Bolehlah negeri Belanda merasa bahagia memiliki tenaga-tenaga ahli yang amat bersungguh-sungguh mencurahkan akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran bagi remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini, anak-anak Belanda lebih beruntung daripada anak-anak Jawa yang telah memiliki buku selain buku pelajaran sekolah.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902).

Di akhir hayatnya, saat Islam mulai lebih jauh dikenalnya, inilah yang Kartini tulis pada sahabat penanya:

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal-hal indah dalam masyarakat Ibu terdapat banyak hal yang tidak bisa disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini Kepada Ny Abendanon, 27 Oktober 1902).

“Moga-moga kami mendapat rahmat dapat bekerja membuat umat agama lain memandang Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

Itulah realitas Kartini. Perempuan cerdas nan hanif yang di akhir hayatnya merasa tercerahkan dengan Islam. Yang akhirnya melihat persoalan perempuan dari sudut pandang Islam.

Bahwa perempuan hadir ke dunia adalah sebagai pendidik pertama sehingga harus dididik dan dicerdaskan. Bukan sebagaimana adat Jawa yang menempatkan perempuan bukan sebagai apa-apa, atau sebagaimana budaya Barat berikan kebebasan tanpa batasan.

Bahkan di surat-surat setelahnya, Kartini menegaskan apa yang sebenarnya menjadi cita-citanya dan justru disembunyikan:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidup. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap dalam melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri dalam tangannya; Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Jadi jelas, menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan emansipasi dan kesetaraan gender adalah sebuah pembajakan sejarah. Yang diinginkan Kartini hanyalah menjadi wanita taat pada ketentuan Rabb-Nya, meski Kartini tak sempat merengguk keluasan ajaran Islam, dikarenakan Alquran tak sempat beliau khatamkan. Di usia belia, beliau harus menghadap Rabb Tuhan Pencipta Alam.

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah.” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903) Wallaahu a’lam bi ash-shawab. [MNews]

#Copas

Jumat, 15 Januari 2021

Bukan Jodoh Sepertinya


Assalamu'alaikum warahmtullahi wabarakatuh.

Bismillah, dengan ini saya sampaikan saya sudah tak lagi sendiri, maksudnya ilmu yang saya ambil ada dua, sometimes orang pikir dua hal ini berbeda tapi sebenarnya saling berkaitan. 

Jika ingat masa dulu saat SMA harusnya saya mengambil jurusan Sastra yah karena nilai bahasa saya jauh lebih baik alhamdulillah dibanding nilai IPA dan Sosial 🤭 mengingat saat itu saya mencoba fokus di penulisan cerpen san puisi, tapi ya namanya qadarullah bukan jodoh sama sastra at least saya masih bisa menulis kan? Menulis resep masakan maksudnya🤭

Saya juga teringat, dulu diakhir kelas 12 ingin sekali menjadi diplomat, cari informasi harus masuk jurusan apa untuk menjadi diplomat oh Hubungan Internasional rupanya, Eh! lupa donk sama cita-cita itu.

Ada juga tuh keinginan untuk jadi arsitektur 😆 jadi saat di sekolah dasar dulu, suka baca koran kan di sana tuh ada design rumah bukan furniturenya yah tapi luas dan model bangunannya anak 90an tahu lah ya ada kolom kecil design rumah di sisi kanan koran (pura pura saja tahu yah hehe), tapi ya qadarullah kandas karena matematika bukanlah sohibku.

Designer pun pernah jadi prototipe halaman sketsa pikiranku, saya memang senang menggambar dan mewarnai tapi khusus baju, sampai punya set warna banyak banget dengan berbagai model dan merk qadarullah lagi, itu hanya hobi harusnya diwujudkan sih lagi lagi bukan jodohnya.

Berakhir lah dengan "tubuh manusia", kenapa ya? padahal tak ada satu mimpi pun yang mengarah ke sana, jodoh ya begini deh yang dipikirin belum tentu jodoh, yang nggak dipikirin bisa jadi jodoh. Masuk pun mudah, dimudahkan banget alhamdulillah, setidaknya nilaiku dipelajaran biologi masih jauh lebih bagus daripada matematika dan fisika musuh bebuyutan, biologi masuk top 3 nilai tertinggi setelah bahasa.

Pelabuhan pertamaku adalah Keperawatan, desakan sebenarnya untuk mengambil jurusan kesehatan sebelumnya lulus di pergigian tapi qadarullah letaknya di Kota Anging Mamiri orang tua tak mengizinkan, namanya ridho harus di genggam dulu ya biar berkah ilmunya.

Berat? Berat, keperawatan itu sekolahnya sangat berat nangis dulu di semester pertama namanya adaptasi, homesick dan kegundahan yang lain. Tapi setelah itu menikmati sih Alhmadulillah.

Pelabuhan kedua, masih seputar manusia. Ternyata mempelajari hidup dan apa yang dipikirkan manusia sejak dia lahir hingga lansia pun berbeda beda, bahkan kita pun terkadang berpikir seperti pasien jiwa, sengaja atau tidak, hanya saja kita masih mampu melawan kesedihan. Iya, psikologi adalah pelabuhan keduaku.

Setelah ini pun saya berharap masih bisa di izinkan sekolah lagi, doain ya bloggerssssss... 

Namun kembali lagi seperti yang sudah sudah, sebaik baiknya kita berencana, setinggi tingginya kita bermimpi tetap Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang Maha Mengetahui mana yang terbaik jadi bersyukur saja dengan takdir, karena percaya akan takdir berarti menjalankan rukun iman bukan?

Nanti lagi yah... 

Wassalam

Rabu, 13 Januari 2021

Jl. Masih Panjang (Part 1)

 




 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 Bismillahirohmanirohim, hi my dearest friends how are you? i hope you always healthy and happy. It's been a long time sinced my last blog i think. Sorry, begitu banyak onak dan duri dalam menulis. But now, i want to share my Hijrah yang juga penuh onak dan duri. 

2012

 Tahun dimana titik balik perjalanan hidup mulai kurasakan, seiring bertambahnya usia makin bertambah pula ujiannya, awalnya lebih cuek mulai banyak memikirkan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan, kesalahan apa yang sudah merenggut imanku menjauh dari hati? 

 Iya, saat itu saya masih gadis pada umumnya berjilbab seleher saja, masih bercelana ke kampus kemanapun saat halaqoh wajin dari kampus saja saya pakai rok. Berbagai masalah datang dan berbagai sahabat karena iman pun datang menyadarkan. 

 Saat itu usiaku masih 20 tahun, sedang sibuk-sibuknya praktik RS dan Skripsi. Tapi, saya sama sekali tidak merasakan kesusahan dalam hal itu, namun tetap saja hati ini cemas, mungkin karena dosaku.

 Sayangnya saya tidak bisa cerita masalah yang membuat saya berpikir kembali arti nafas gratis yang Allah berikan, cukup Allah yang mengetahui dan menyembunyikannya. Sungguh saat itu Allah sayang banget hingga mengirimkan orang-orang baik dikala masalah datang. 

 Pernah suatu malam saya menangis sejadi jadinya, menangis begitu dalam menangisi betapa Allah merindukan doa doa ku, merindukan sujud ku, merindukan lantunan ayat suci yang keluar dari lisanku, merindukanku. Ya, saya pun merindukanNya sangat amat, belum pernah dalam hidup serindu ini pada Kekasih Hati.

 Hari demi hari kupakai untuk merenungi semua dosa, semua khilaf yang Allah selalu sembunyikan dari teman temanku, keluargaku, Sunggu betapa Allah mencintaiku dan saya pun harus membalas cintaNya dengan berHIJRAH.

 Pernah dengar lagu Muhasabah Cinta dan Sendiri Menyepi dari Edcoustic lagu ini pun membantuku mengingatnya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi tak satupun saya membalasnya. Sedih? Sedih karena semakin bertambahnya usia maka makin dekat pula ajalku, itu berarti waktuku menipis untuk memohon ampun.

 Tahun dimana saya pun mulai merubah penampilanku, merubah total pakaianku bahkan caraku memandang setiap masalah dan menilai orang orang yang mampu membawaku dalam keimanan.

 Belum, saya belum langsung sempurna. Masih belajar di level 1 dalam berpakaian, teman sekelas pun mayoritas kaget dengan perubahanku, iya kelas itu masih hedonis hanya beberapa orang saja memang yang sudah lebih dulu berhijrah. Tentu saja saya mendapatkan ucapan ucapan bernada menghina akan perubahan penampilanku.

 Perempuan jika sudah berhijrah hal utama yang paling terlihat adalah penampilannya bukan? Mereka menghinaku secara terang terangan, ah! Masih sangat teringat jelas hingga saat saya menulis ini "Jilbab apa yang kau pakai? Bukan taplak meja kan?" saya tidak bisa membalasnya hanya senyum saja yang terlihat dalam diwajahku, meski kalian tahu? Saya menangisinya.

 Watak perempuan sesuai ciptaanNya penuh dengan kelembutan, maka ketika ada yang menghina dirinya karena mendekatkan diri pada Rabbnya pecah pula tangisannya di sepertiga malam tapi setelah itu saya kembali ceria, saya tahu karena membacanya dari buku para Sahabat Perempuan di Zaman Nabi, cobaanku ketika berhijrah belum ada apa apanya maka Sabr membuat saya makin dekat denganNya. 

 Tentu saja saya tidak berusaha berubah seorang diri, saya butuh teman menuju keimanan, butuh pembimbing untuk bertanya hal apa saja yang bisa mendekatkanku dengan CintaNya dan Masya Allah sambutannya luar biasa. Saya tidak akan melupakan jasa salah seorang teman sekelasku yang mengarahkan ke dalam halaqoh halaqoh yang tersebar di kampus, banyak ternyata tapi selama ini saya buta dengan maksiat sehingga yang halal tampak menjijikan dimataku Astagfirullah. 

2013

 Saat itu usiaku 21 tahun menuju sidang skripsi untuk meraih gelar sarjanaku di salah satu universitas swasta di Sukoharjo (mungkin teman teman ada yang tahu yah) saya semakin mantap menuju ke jalan yang Allah ridho alhamdulillah. 

 Jika ditanya apa tidak ada godaan? Banyak, selama masih bernafas selama itu pula hawa nafsu terus ada, terlebih lagi ujian dari keluarga, orangtua. Saya sudah dengar hal yang paling sulit ketika kita memutuskan berhijrah adalah menghadapi penilaian orang tua kandung. 


Bersambung...

Selasa, 08 Maret 2016

Jenis Jenis Nafsu



Dear shalihah
Aku, kamu, dia, mereka, binatang, tumbuhan, bahkan jin dan setan, semua makhluk yang Allah ciptakan memiliki nafsu kecuali para Malaikat.

Nafsu yang terdapat pada manusia adalah sejatinya merupakan ujian. Jika manusia mampu menguasai nafsunya bermakna dia telah berjalan mengatasi salah satu ujian Allah yang cukup berat ini.

Kenapa berat? Karena nafsu soulmatenya manusia. Allah sudah menciptakan kita sepaket dengan nafsu.

Sekiranya nafsu dididik ke arah kejahatan dan melalui arah yang jahat, maka nafsu akan menjadi jahat dan liar. Maka akan lahirlah orang yang pandai tetapi jahat, orang bodoh yang jahat, pemimpin yang jahat dan pendidik yang jahat. Banyak kan contohnya? Nggak perlu disebutin siapa kali yah hehehe. Maka nafsu yang tidak terkendalikan akan menjadi sebab kehancuran suatu bangsa.

Allah Ta'ala berfirman  “Mereka yang berjuang ke jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan jalan jalan Kami. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Surah al- Ankabut ayat 69)

Maka nafsu pun perlu di didik. Nafsu merupakan bagian diri, musuh internal manusia sementara setan musuh eksternal.

Nafsu merupakan musuh utama, kedua setelahnya barulah setan.

Untuk itu shalihah banyak yang bertanya kan?

"Kenapa sih Mbak bulan puasa godaannya banyak? Bukannya setan dipenjara saat ramadhan? Kenapa masih ada godaan yah?"

Nah loh, siapa yang pernah bertanya ngacung! Saya dulu pernah nanya juga sih hehe sama ustadzah dan saya masih ingat betul.

Ternyata memang benar setan dipenjara saat ramadhan tapi nafsu tidak. Nafsu tidak bisa dpenjara saat ramadhan. Nafsu tetap ada pada diri manusia, manusia terlahir dengan nafsunya. Nafsu merupakan ujian yang akan selalu ada pada manusia.

Dalam sirah ketika Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam  dan para sahabat balik dari perang Badar, Rasulullah bersabda :  “Kita kembali dari perang yang kecil menuju perang yang  besar.”

Para Sahabat lantas bertanya : "Apakah perang yang besar itu ya Rasulullah?”
Jawab Rasulullah : “Perang melawan nafsu.” (Hadis Riwayat Baihaqi)

Dear Shalihah
Dalam Al Quran, nafsu manusia  dibagi menjadi tiga jenis  :

1. Nafsu Ammarah Bisu'
Ini adalah nafsu yang paling buruk, akan selalu membawa manusia dengan mudahnya ke arah keburukan, kemaksiatan. Apabila ada pada diri manusia nafsu ini, maka manusia tersebut sangat susah diberi nasehat, sangat susah diketuk hatinya, sangat susah diajak menuju kebaikan.

Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Jika berbuat kejahatan, dia bangga dengan kejahatannya. Jika ada yang melarang dia akan berucap "Siapa yang berani melarangku, dia akan menanggung akibatnya" Serem yah kalau ada penguasa seperti ini, naudzubillahi min dzalik...

Maka mintalah sama Allah dan teruslah beristigfar semoga kita dijauhkan dari nafsu ini.

Next nafsu selanjutnya adalah

2. Nafsu Lawwamah
Ini adalah jenis nafsu yang labil. Kenapa demikan? Nafsu ini sudah paham baik buruk. Sudah paham mana yang Allah larang mana yang Allah perintahkan. Kadang dia berbuat baik, kadang dia jug berbuat buruk.

Setelah melakukan keburukan dia akan bertaubat, lalu melakukan keburukan lagi. Makanya saya sebut nafsu labil.

Contoh nih, seseorang yang baru hijrah masih labil kan? Kadang ada temen yang ngajak, padahal dia berusaha sekali untuk lepas dari dunia malam bersama yang bukan mahrom.

"Yuk nongkrong bareng malam minggu yuk, satnite bareng kiteee"

"Hayuk...."

Setelah itu dia bertaubat

"Astagfirullah, kenapa saya gini lagi yah? Maafkan hambamu yang lalai ya Allah"

Nah ini contohnya antara setan dan nafsu kolaborasi.

Namun, nafsu ini sebenarnya masih bisa dikendalikan dengan perbanyak istigfar dan berkumpul dengan sahabat sahabat shalih. Insyaa Allah sahabat yang baik nggak akan mengajakmu pada keburukan.

Okeeey,next nafsu terakhir, nafsu yang ditunggu tunggu,nafsu yang diimpikan. What? Ada yah nafsu yang diimpikan? Ada donk

3. Nafsu Muthmainnah
Nafsu yang membawa ketaatan kepada Allah, nafsu yang membuat tenang, nafsu yang ingin selalu dekat dengan Allah. Nafsu yang diimpikan semua manusia,karena nafsu ini membawa ridha Allah dunnya wal akhirah.

Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa cenderung melakukan kebaikan. Mereka mudah bersyukur dan qanaah  segala kesenangan dunia tidak akan membuat lupa diri, menerima qada dan qadar dengan ketenangan tanpa kegelisahan sebab hatinya begitu dekat dengan Allah.

Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia. Semoga Allah Ta'ala golongkan kita dalam nafsu yang hebat ini.

Lantas nafsu pula lah yang akan membawa kita pada kesuksesan. Oh bukan dia yang berhasil raih gelar doktor, bukan dia yang jadi pengusaha sukses, bukan dia yang mampu sekolah di kampus mentereng, bukan dia yang jadi penguasa, bukan dia yang punya duit segunung. BUKAN.

Orang sukses adalah orang yang melawan nafsu buruknya, menuju nafsu muthmainnah. Orang yang ridha atas ketapan yang Allah berikan. Sukses di Jannah! Ini baru sukses.

Nah bagaimana? Sudah tahu yah sekarang jenis jenis nafsu manusia. Jadi, berusahalah untuk menetapkan nafsu mutmainnah menjadi soulmate kita. Semoga kita masuk dalam golongan manusia dengan nafsu muthmainnah.

Kajian Pekanan Muslimah
Senin, 7 Maret 2016
Masjid Ibadullah Pabelan, Kartasura
IG: @oescollection

Senin, 07 Maret 2016

Wa laa taqrabu zina

“Wa laa taqrabu zinaa …”

“Jangan dekati zina …” (QS Al Isra: 32)

Dear shalihah,
Pernah dengar ayat di atas?
Harusnya sih pernah yah, atau kamu malah anti dengan ayat tersebut?

Lumrah ketika kita mencintai seseorang, sangat lumrah karena Allah yang memberi rasa itu. Apakah cinta itu bisa hadir ke aktivis dakwah? Oh sangat bisa, sangat bisa sekali.

Ketika makan ada dia, ketika mau tidur ada dia, BAHKAN Ketika tilawah lembar demi lembar dibuka selalu ada dia.

Ini cinta, bahkan saat berdoa pun dengan sadar kita mendoakannya.

Sangat lumrah seperti itu, apakah tidak boleh? Apakah salah? Boleh dan tidak salah wallahu a'lam yang salah dan yang tidak boleh ketika rasa itu berlarut larut, membuat kita malas beribadah, membuat kita jatuh ke lubang maksiat.

Begini, Allah bukan melarang kita berzina, tidak ada ayat yang menjelaskan hal tersebut. Namun Allah melarang kita mendekat zina. Jangankan berbuat zina, MENDEKATI saja Allah sudah larang. Tandanya apa? Allah Maha Pecemburu. Ketika ada makhluknya lebih memilih dunia daripada akhirat, ketika lebih menjauh dari Allah saat mendapat kekayaan, ketika cinta kita lebih besar terhadap makhlukNya daripada kepada Allah, dan ketika kita mendekati zina dengan dia atau mereka yang bukan mahrom kita.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR Muslim)

Bagaimana dengan pemuda sekarang? Pacaran dengan bukan suaminya menjadi hal lumrah. Atau ada sekarang yah pacaran syariah. Biasanya terjadi dikalangan aktivis dakwah nih. Setan bukan lagi mengejar perihal aqidah, perihal tauhid BUKAN, setan mengincar akhlaq.

"Saya nggak pegangan tangan kok Mbak"

"Saya kan hanya sms jangan lupa sholat yaa akhi"

"Saya kan hanya di ajak ke kajian bareng Mbak"

"Kami hanya saling mengingatkan sholat kok Mbak"

Wahai shalihah, sekali lagi Allah melarang kita mendekati zina!

Nanti lama lama

"Ana uhibukifillah yaa ukhti/akhi"

Modus wahai muslimah!

Apa lantas kita pikir setan tidak cerdik? Setan itu pintar, dia mengusik melalui aliran darah kita. Untuk itu kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa, karena ketika berpuasa aliran darah kita menyempit. Nafsu bisa teralihkan.

Laki laki yang baik tak akan mungkin mendekatimu sebelum mendekati orangtuamu. Laki laki yang baik bukan mencari perhatianmu, namun mencari perhatian bapakmu. Laki laki yang baik tidak berpacaran denganmu tapi berpacaran dengan orang tuamu. Laki laki yang baik datang ke rumahmu bukan mengajak untuk berpacaran, namun mengajakmu untuk menikah melalui bapakmu.

Bagaimana? Siapa menjaga hati hanya untuk dia suamimu? Good Luck shalihah!

Wallahu a'lam
IG @oescollection
WA +6285729530070 (fast)
Menyediakan pakaian syar'i casual, wisuda dan walimah :)

Senin, 18 Mei 2015

Berbahagialah Adikku...

".....Mbak, tahsinku nggak lulus :'( "

Bismillah,
Pagi ini saya dapat kabar dari salah satu adikku, tidak lulus dalam ujian tahsin setelah menjalani banyak proses sebelumnya, ia pun larut dalam kesedihan.

Apa yang bisa kita katakan sebagai seorang kakak dan teman?

"Alhamdulillah adikku shalihah, engkau telah menyelesaikan kuliah tahsin atas keinginanmu sendiri. Engkau sadar, menjadi muslim sejak lahir saja tak cukup untuk mampu menjadi muslim yang sebenarnya maka engkau pun belajar ilmu agama kembali termasuk belajar ilmu tajwid atau tahsin.

 Tak aneh bila kita gagal hanya sekali, justru itu sangatlah normal. Yang aneh apabila kita tak pernah terbesit keinginan apalagi mencoba belajar. 

Banyak orang diluar sana menyatakan 'saya muslim dan saya tentu bisa baca Al-qur'an,' tapi tahukah? Diantara mereka bahkan tak pernah terbesit sekalipun ingin belajar kembali ilmu tajwid yang pernah dipelajari lalu  terlupakannya dan itu jauh lebih salah, ketika kita sudah tahu namun kita lupa daripada orang yang tak paham sama sekali.

Alhamdulillah adikku, selangkah engkau lebih maju dalam memperbaiki diri, bekalmu ada dan sebenarnya engkau siap dan wajib untuk mengajarkan ilmu itu. 

Semoga Allah menjagamu, Allah tahu engkau sedang berusaha. Terakhir tawakal lah, dan teruslah belajar ilmu tajwid hingga Allah mengatakan 'selesai'."

Solo, 29 Rajab 1436H
Kakakmu, sahabat seperjuanganmu dalam hijrah, peluk sayang, peluk hangat.

Ocnatias Eka Saputri

Karena Allah pertemukan kita.

Berbahagialah dengan ilmu itu,  dan jangan bersedih karena gagal setelah belajar, tapi bersedihlah karena engkau tak pernah ingin mencoba belajar @tiazekaputri

Jumat, 15 Mei 2015

Saudariku, Kembalilah...

Ah sudah lah, sungguh...
Aku cinta kepolosan itu, keluguan itu, kesederhanaan itu, aku rindu... merindukannya.

Disaat aku tak ingin mengenal lebih dekat dengan dunia, tak akan ada rasa iri, cemburu, dengki, bahkan gengsi yang berlebihan.

Membuat lupa dan melupakan lugunya diri. Kesederhanaan yang membuat Allah lebih suka, lebih sayang, lebih cinta kepada hamba-Nya.

Aku terpana, tercengang pada bius dunia yang membuat si pecandunya merasakan terbang, memiliki sayap dan berkata "Hallooooo ini, aku ada sedang di hadapanmu. Lihatlah! " 

Hilang sudah, hilang. Ketika beberapa tahun sebelumnya aku mulai melihatmu dengan balutan syar'i dalam akun facebookmu dan aku ingin memanggil dan belajar darimu yang lebih dahulu hijrah, "Ukhty... maukah mengajariku menggunakan hijab seperti yang kau kenakan? Bagaimana caranya aku bisa sepertimu?" tapi saat itu aku tak berani.

Setelahnya benar aku merasa kehilangan, dirimu tak lagi sama. Kesederhanaan tanpa riasan wajah itu hilang diganti dengan sekelebat riasan arogan, itu bagiku saat melihatmu sekarang.

Arogansi dengan penuh gengsi itu muncul, kau bukan yang dulu yang membuatku terpana dan tercengang. "Kemana dirimu duhai ukhty nan shalihah... Kemana kau pergi? Tak ingin kah kau kembali dalam wujud sederhana seperti saat aku melihat busana syar'i mu?"

Goyah memang goyah, ketika hati sudah terbius ujian ujian mewah dunia. Tak ada satupun manusia yang menyatakan dirinya beriman tanpa di uji, meski ulama besar sekalipun. Apalagi kamu, aku yang tak ada apa-apanya.

Duhai saudariku tersayang, lihatlah ada banyak sahabat shalihah yang menantikan mu kembali, bersama dalam keanggunan syar'i yang jauh lebih sederhana dan indah.

Ingat, bagaimana Allah beri kenikmatan ibadah, kenikmatan saat kau benar-benar dekat dengan-Nya pada masa itu. Bertanyalah kembali pada hatimu, apa yang sedang kau rasakan? Tak rindukah kau pada masa indah itu? 

Aku rindu, kami rindu keanggunan dirimu dalam memahami al-haq.

Saudariku, kembalilah...

Saudarimu, yang merindu karena Allah
Ocnatias Eka Saputri

Rabu, 22 April 2015

Emansipasi Itu...

Bismillah...

Saudariku tahu nggak sih, kalau Kartini itu istri ke 4 dan merasakan hidup bahagia hingga akhir hayatnya, karena suaminya begitu menghargainya dalam  poligami yang kebanyakan  wanita menolaknya.

Tahu nggak sih ketika Kartini menyelesaikan pendidikan di sekolah milik Belanda, dan setelah menikah pemikiran liberal mengenai feminisme itu berubah? Sehingga teman-teman Belanda nya tidak berhasil mempengaruhi pikiran Kartini selamanya.

Dan Kartini bahagia menjadi istri ke 4 Bupati Rembang

Emansipasi yang dimaksud itu BUKAN dengan menghalalkan untuk tidak menikah karena wanita bisa mencari nafkah untuk kehidupannya sendiri, atau ia bisa dengan mudah megembar gembor kan bahwa tak butuh lelaki. Emansipasi itu, itu loh wanita bisa berpendidikan tinggi dan dengan ilmunya mampu mendidik anak-anaknya esok sebagai penerus baik terhadap agama maupun negaranya.

BUKAN bangga menjadi wanita karir lalu lupa mengenai pendidikan anak-anaknya ada ditangannya, seakan berkata "Pokoknya besok setelah nikah saya harus kerja, sayang donk ilmu tinggi-tinggi nggak dipake kerja". Justru pemikiran seperti ini lebih kuno. Bahkan hingga melupakan hak hak anaknya. Wanita boleh saja bekerja, tapi tetap pada koridor-koridor yang tidak melupakan peran pentingnya dalam keluarga dan dirinya sebagai perempuan.

Ingat, sekolah pertama anak-anak itu ada pada Ibu. Bukan pada jasa pengurus bayi yang kita bayar mahal, justru anak kita itu begitu berharga saking berharganya tak sembarang orang boleh mengasuhnya. Benar kan? Untuk itu lah kenapa seorang ibu harus berpendidikan. Hak pertama seorang anak adalah ibunya yang cerdas.

Itu loh yang dimaksud...

Jadi benar saja, kalau mau nyari panutan baca Shahabiyah Nabi Salallahu 'alaihi wassalam. Wes lengkap, sebelum Kartini gerak sudah ada yang mendahuluinya. Siapa mereka? Ummahatul Mukminin. 

Wallahu a'lam

By: Ocnatias Eka Saputri

 
Back To Top