TRENDING
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2021

Ayo Bergerak Sebelum Tua!

 



Olahraga di usia tua akan melindungi daya ingat dan kemampuan berpikir

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Neurologi memberikan bukti lebih lanjut bahwa olahraga di usia tua dapat memperlambat laju penurunan kognitif.

Dr. Clinton B. Wright, dari Universitas Miami di Florida, dan rekannya menemukan bahwa orang dewasa berusia di atas 50 tahun yang hanya melakukan olahraga ringan atau tanpa olahraga mengalami penurunan memori dan kemampuan berpikir yang jauh lebih cepat, dibandingkan dengan mereka yang melakukan olahraga sedang hingga intens.

Ini bukan studi pertama yang mengaitkan olahraga di kemudian hari dengan keterampilan kognitif yang lebih baik. Penelitian terbaru yang dilaporkan oleh Medical News Today, misalnya, menunjukkan bahwa olahraga apa pun dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer hingga 50%.

Dan penelitian lain yang dilaporkan Oktober lalu menemukan bahwa latihan aerobik secara teratur selama usia paruh baya dan lebih tua dapat membantu menjaga kesehatan otak, melindungi dari defisit perilaku dan peradangan terkait bertambahnya usia di area otak yang berhubungan dengan memori dan pemikiran.

Tampaknya penelitian seperti ini berlimpah, tetapi para peneliti mencatat bahwa penting untuk memahami bagaimana faktor gaya hidup dapat membantu memperlambat penurunan kognitif, terutama untuk populasi orang tua atau lansia.

"Jumlah orang yang berusia di atas 65 tahun di Amerika Serikat terus meningkat, yang berarti beban kesehatan masyarakat untuk berpikir dan masalah ingatan kemungkinan besar akan bertambah," kata Dr. Wright.

"Studi kami menunjukkan bahwa untuk orang tua, berolahraga secara teratur mungkin melindungi, dan membantu mereka mempertahankan kemampuan kognitif mereka lebih lama."

Daya ingat yang lebih baik, keterampilan berpikir dengan olahraga sedang atau intens

Untuk mencapai temuan mereka, tim menilai data 876 orang dewasa berusia 50 dan lebih tua - usia rata-rata 71 tahun - bebas dari gangguan memori dan masalah berpikir yang merupakan bagian dari Studi Manhattan Utara.

Sebagai bagian dari penelitian, peserta ditanyai seberapa sering mereka berolahraga dalam 2 minggu sebelumnya dan berapa lama mereka berolahraga.

Sekitar 90% dari peserta melaporkan tidak melakukan olahraga atau latihan ringan - seperti yoga atau berjalan - sementara 10% lainnya mengatakan mereka telah melakukan latihan intensitas sedang atau tinggi, seperti lari atau aerobik.

Kurang lebih 7 tahun kemudian, setiap peserta menjalani pencitraan otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) dan mengikuti tes memori dan berpikir. Tes kognitif ini diselesaikan lagi 5 tahun kemudian.

Dibandingkan dengan peserta yang melakukan aktivitas intensitas sedang atau tinggi, mereka yang melakukan olahraga ringan atau tanpa olahraga menunjukkan penurunan memori dan keterampilan berpikir selama periode 5 tahun yang sebanding dengan 10 tahun penuaan.

Tim mengatakan asosiasi ini tetap ada setelah memperhitungkan sejumlah faktor yang berpotensi perancu, termasuk konsumsi alkohol, status merokok, indeks massa tubuh (BMI) dan tekanan darah.

Mengomentari temuan mereka, Dr.Wright berkata:

“Aktivitas fisik merupakan pilihan yang menarik untuk mengurangi beban gangguan kognitif pada kesehatan masyarakat karena biayanya rendah dan tidak mengganggu pengobatan. Hasil kami menunjukkan bahwa olahraga sedang hingga intens dapat membantu penundaan penuaan otak pada orang tua, tetapi lebih banyak penelitian dari uji klinis random yang membandingkan program olahraga dengan aktivitas yang lebih banyak masih memerlukan konfirmasi untuk hal ini. "

Medical News Today baru-baru ini melaporkan sebuah penelitian yang menunjukkan pola makan yang buruk dan kurang olahraga dapat mempercepat penuaan.

Sumber: Medical News Today

Penerjemah: Ocnatias Eka Saputri

 

 

 

 

Senin, 15 Februari 2021

SUPERWIFE (Buku Antologi)

   

 


    Assalamu'alaikum kawan tersayang, mari kuperkenalkan dengan anak keduaku. Sebelumnya aku ingin memberitahukan pada kalian, bahwa anak keduaku lahir tanpa rencana, hanya niat saja untuk membuatnya. terlahir di tengah hiruk pikuk keraguan dalam hati, apakah bisa aku melewati segala prosesnya tanpa rasa sakit, dan kecewa. Perlu kawan ketahui, bahwa kelahirannya adalah anugerah, dan berkah tersendiri buatku, kelahirannya membawa kembali diriku yang lama hilang, berkelana entah kemana.

            Aku bersyukur kepada mereka yang telah membantuku melewati semua proses, segala motivasi yang selalu datang dari kekasihku, tanpa ridhonya mungkin semuanya tidak akan terjadi, karena ridhonya sama dengan ridho Yang Maha Kuasa.

            Baik, tanpa butuh satu paragraf lagi aku perkenalkan, dan persembahkan anak keduaku, karya keduaku, masih dengan genre non fiksi, dan masih bersama menulis dalam tim (antologi), membagi kisah nano-nano dari para istri. Rasa nano-nao yang di kemas semenarik mungkin, membawa pembaca untuk terus membaca, merasakan kehadiran para penulis dalam setiap kisahnya, karena kisah mereka bisa jadi adalah kisahmu juga.

            Superwife hadir membawa kehangatan untuk para wanita, calon istri, istri dan bahkan calon ayah dan para ayah, untuk melihat dari berbagai sisi mengenai kehidupan wanita, setelah berstatus istri. Saat disayangkan, nyatanya tidak akan pembaca temukan tips pasti dalam buku ini, hanya kisah-kisah yang membawa inspirasi dan motivasi untuk melihat dunia istri yang semakin luas.

            Well, penasaran bagaimana isinya? Miliki segera SUPERWIFE Jilid 2, karya Tim Nulisyuk Batch 62.

           

 


Rabu, 13 Januari 2021

Jl. Masih Panjang (Part 1)

 




 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 Bismillahirohmanirohim, hi my dearest friends how are you? i hope you always healthy and happy. It's been a long time sinced my last blog i think. Sorry, begitu banyak onak dan duri dalam menulis. But now, i want to share my Hijrah yang juga penuh onak dan duri. 

2012

 Tahun dimana titik balik perjalanan hidup mulai kurasakan, seiring bertambahnya usia makin bertambah pula ujiannya, awalnya lebih cuek mulai banyak memikirkan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan, kesalahan apa yang sudah merenggut imanku menjauh dari hati? 

 Iya, saat itu saya masih gadis pada umumnya berjilbab seleher saja, masih bercelana ke kampus kemanapun saat halaqoh wajin dari kampus saja saya pakai rok. Berbagai masalah datang dan berbagai sahabat karena iman pun datang menyadarkan. 

 Saat itu usiaku masih 20 tahun, sedang sibuk-sibuknya praktik RS dan Skripsi. Tapi, saya sama sekali tidak merasakan kesusahan dalam hal itu, namun tetap saja hati ini cemas, mungkin karena dosaku.

 Sayangnya saya tidak bisa cerita masalah yang membuat saya berpikir kembali arti nafas gratis yang Allah berikan, cukup Allah yang mengetahui dan menyembunyikannya. Sungguh saat itu Allah sayang banget hingga mengirimkan orang-orang baik dikala masalah datang. 

 Pernah suatu malam saya menangis sejadi jadinya, menangis begitu dalam menangisi betapa Allah merindukan doa doa ku, merindukan sujud ku, merindukan lantunan ayat suci yang keluar dari lisanku, merindukanku. Ya, saya pun merindukanNya sangat amat, belum pernah dalam hidup serindu ini pada Kekasih Hati.

 Hari demi hari kupakai untuk merenungi semua dosa, semua khilaf yang Allah selalu sembunyikan dari teman temanku, keluargaku, Sunggu betapa Allah mencintaiku dan saya pun harus membalas cintaNya dengan berHIJRAH.

 Pernah dengar lagu Muhasabah Cinta dan Sendiri Menyepi dari Edcoustic lagu ini pun membantuku mengingatnya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi tak satupun saya membalasnya. Sedih? Sedih karena semakin bertambahnya usia maka makin dekat pula ajalku, itu berarti waktuku menipis untuk memohon ampun.

 Tahun dimana saya pun mulai merubah penampilanku, merubah total pakaianku bahkan caraku memandang setiap masalah dan menilai orang orang yang mampu membawaku dalam keimanan.

 Belum, saya belum langsung sempurna. Masih belajar di level 1 dalam berpakaian, teman sekelas pun mayoritas kaget dengan perubahanku, iya kelas itu masih hedonis hanya beberapa orang saja memang yang sudah lebih dulu berhijrah. Tentu saja saya mendapatkan ucapan ucapan bernada menghina akan perubahan penampilanku.

 Perempuan jika sudah berhijrah hal utama yang paling terlihat adalah penampilannya bukan? Mereka menghinaku secara terang terangan, ah! Masih sangat teringat jelas hingga saat saya menulis ini "Jilbab apa yang kau pakai? Bukan taplak meja kan?" saya tidak bisa membalasnya hanya senyum saja yang terlihat dalam diwajahku, meski kalian tahu? Saya menangisinya.

 Watak perempuan sesuai ciptaanNya penuh dengan kelembutan, maka ketika ada yang menghina dirinya karena mendekatkan diri pada Rabbnya pecah pula tangisannya di sepertiga malam tapi setelah itu saya kembali ceria, saya tahu karena membacanya dari buku para Sahabat Perempuan di Zaman Nabi, cobaanku ketika berhijrah belum ada apa apanya maka Sabr membuat saya makin dekat denganNya. 

 Tentu saja saya tidak berusaha berubah seorang diri, saya butuh teman menuju keimanan, butuh pembimbing untuk bertanya hal apa saja yang bisa mendekatkanku dengan CintaNya dan Masya Allah sambutannya luar biasa. Saya tidak akan melupakan jasa salah seorang teman sekelasku yang mengarahkan ke dalam halaqoh halaqoh yang tersebar di kampus, banyak ternyata tapi selama ini saya buta dengan maksiat sehingga yang halal tampak menjijikan dimataku Astagfirullah. 

2013

 Saat itu usiaku 21 tahun menuju sidang skripsi untuk meraih gelar sarjanaku di salah satu universitas swasta di Sukoharjo (mungkin teman teman ada yang tahu yah) saya semakin mantap menuju ke jalan yang Allah ridho alhamdulillah. 

 Jika ditanya apa tidak ada godaan? Banyak, selama masih bernafas selama itu pula hawa nafsu terus ada, terlebih lagi ujian dari keluarga, orangtua. Saya sudah dengar hal yang paling sulit ketika kita memutuskan berhijrah adalah menghadapi penilaian orang tua kandung. 


Bersambung...

Selasa, 29 Maret 2016

Cause you're Strong


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang dusta (munafik)."

Hmmmm, surat ini Surat Al-Ankabut, surat ke 29 di ayat 2 dan 3, saat hati lemah, iman sedang goyah ketika ujian yang Allah berikan berdatangan secara serempak dan tak mengenal waktu saya selalu coba mengingat ayat ini. Selalu... Ayat ini saya dapat ketika saya bertanya kepadaNya ketika saya mulai mengenal kembali siapa itu Yang Maha Esa

"Ya Allah, apakah harus saya? Kenapa harus saya ya Allah? Kenapa engkau pilih hambaMu yang lemah ini? Kenapa bukan orang lain? Kenapa saya berbeda? Kenapa Engkau berikan kpd ku? Kenapa ya Allah?"

Tak mendapatkan jawaban, lantas sy bertanya kepada teman di Klaten, bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan Allah secara langsung? Dia menyarankan, buka Qur'an secara acak dan ayat pertama yang terbaca maka itu JawabanNYA

Surat ini, adalah surat pertama yang melekat di hati, bukan karena hafalan tapi makna terdalam. Makna yang begitu berakar untuk menemani hijrah, menguatkan iman!

Ibarat sekolah, ketika kita akan naik kelas kita akan menghadapi ujian, semakin tinggi, semakin berat pula ujiannya. SD ke SMP, lalu ke SMA kemudian kuliah. Semuanya kita lalui dgn ujian. Hanya kita tak peka bahwa trnyta kita sdg naik level.

Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam pernah ditanya oleh Sa'ad bin Abi Waqqas

"Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)

Sama halnya dengan iman, Allah membedakan ummatnya dengan ujian, membedakan mana yang beriman dan mana yang tidak. Seperti dalan surat Ali Imran ayat 186, Allah berfirman

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan"

Sabar dan takwa adalah kunci problem solving (pemecahan masalah) berat atau tidak kunci jawabannya tetap sama "sabar dan takwa" inilah yang membedakan org beriman dan tidak.

Namun perlu kita ingat bahwa seberat beratnya ujian yang Allah berikan kepada manusia setelah Rasulullah dan para sahabat, tak ada apa apanya. Ujian kita hanya ujian 1:1jt beratnya. Begitu ringan, seperti kapas, tertiup angin dengan mudah dia melayang.

“Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya, baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya.” (H.R Bukhari)

Jadi tak ada alasan untuk kita merasa sedih, putus asa, menyerah, hingga berlarut larut. Allah tak suka hal itu. Sedih hal yang lumrah setelah itu bangkitlah.

Karena, Hei! Kita lah orang orang yang dipilih Allah untuk naik ke level lebih tinggi dengan hadiah kelulusan berupa rumah...,

Bukan, bukan sekedar rumah, lebih dari itu, Istana di Surga.

By: Ocnatias Eka Saputri, hamba yang lemah
IG: @tiasekaputri
IG My Outfit: @oescollection

Rabu, 02 September 2015

Kita Menyebutnya Wanita Kuno



Jika wanita kuno disematkan pada seorang ibu yang hanya di rumah, mengurus keluarga, mengurus anak, mengurus usahanya saja di rumah. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu ibu kita dulu, yang rela lepasin gelar sarjana, nurut suami. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu yang lebih dahulu bangun sebelum orang lain terbangun, akan tidur ketika semua orang sudah tertidur. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu ibu yang selalu bersyukur, atas apapun pemberian suaminya. Mereka memang kuno
Jika wanita kuno adalah ibu yang menghasilkan seorang anak ditahun tahun 2000 kebelakang dan sekarang si anak menjadi seorang presiden, guru besar, penemu, pencentus, milyarder, pengusaha besar, dan tokoh tokoh ulama yang namanya harum. Maka wanita itu memang kuno

Wanita itu memang kuno, tidak mementingkan karirnya, tidak mementingkan egonya, tidak mementingkan gengsinya, fokus utama adalah keluarga

Bagaimana dengan para ibu di zaman milenium?

Wanita modern dengan gelar sederet, menitipkan anak anaknya di tempat penitipan anak saat kerja, meninggalkan anaknya bersama sang nenek demi mengejar gelarnya, melepaskan perkembangan anaknya pada orang lain, dan sifat 'meninggalkan' lainnya. Oh ibu, sungguh hebat. Modern

Apakah akan ada penemu lagi ditangan seorang ibu yang mementingkan egonya?

Apakah akan ada lagi ilmuwan ternnama ditangan seorang ibu, yang tega meninggalkan buah hatinya ditangan orang lain?

Akan jadi apa anak kita nanti? Akan jadi apa masa depannya?

Ingin lihat masa depan anak kita seperti apa? Bisa, lihatlah pola asuh yang kita berikan selama ini

Wanita kuno jauh lebih berharga, dari pada wanita modern dengan gengsi di hatinya.

Jumat, 15 Mei 2015

Saudariku, Kembalilah...

Ah sudah lah, sungguh...
Aku cinta kepolosan itu, keluguan itu, kesederhanaan itu, aku rindu... merindukannya.

Disaat aku tak ingin mengenal lebih dekat dengan dunia, tak akan ada rasa iri, cemburu, dengki, bahkan gengsi yang berlebihan.

Membuat lupa dan melupakan lugunya diri. Kesederhanaan yang membuat Allah lebih suka, lebih sayang, lebih cinta kepada hamba-Nya.

Aku terpana, tercengang pada bius dunia yang membuat si pecandunya merasakan terbang, memiliki sayap dan berkata "Hallooooo ini, aku ada sedang di hadapanmu. Lihatlah! " 

Hilang sudah, hilang. Ketika beberapa tahun sebelumnya aku mulai melihatmu dengan balutan syar'i dalam akun facebookmu dan aku ingin memanggil dan belajar darimu yang lebih dahulu hijrah, "Ukhty... maukah mengajariku menggunakan hijab seperti yang kau kenakan? Bagaimana caranya aku bisa sepertimu?" tapi saat itu aku tak berani.

Setelahnya benar aku merasa kehilangan, dirimu tak lagi sama. Kesederhanaan tanpa riasan wajah itu hilang diganti dengan sekelebat riasan arogan, itu bagiku saat melihatmu sekarang.

Arogansi dengan penuh gengsi itu muncul, kau bukan yang dulu yang membuatku terpana dan tercengang. "Kemana dirimu duhai ukhty nan shalihah... Kemana kau pergi? Tak ingin kah kau kembali dalam wujud sederhana seperti saat aku melihat busana syar'i mu?"

Goyah memang goyah, ketika hati sudah terbius ujian ujian mewah dunia. Tak ada satupun manusia yang menyatakan dirinya beriman tanpa di uji, meski ulama besar sekalipun. Apalagi kamu, aku yang tak ada apa-apanya.

Duhai saudariku tersayang, lihatlah ada banyak sahabat shalihah yang menantikan mu kembali, bersama dalam keanggunan syar'i yang jauh lebih sederhana dan indah.

Ingat, bagaimana Allah beri kenikmatan ibadah, kenikmatan saat kau benar-benar dekat dengan-Nya pada masa itu. Bertanyalah kembali pada hatimu, apa yang sedang kau rasakan? Tak rindukah kau pada masa indah itu? 

Aku rindu, kami rindu keanggunan dirimu dalam memahami al-haq.

Saudariku, kembalilah...

Saudarimu, yang merindu karena Allah
Ocnatias Eka Saputri

Rabu, 08 April 2015

Seperti Bercermin

Perlakukan orang lain, seperti saat kita memperlakukan diri kita.

Ternyata bukan hanya jodoh loh yang merupakan cerminan kita. Namun juga perlakuan orang lain terhadap kita adalah cerminan diri kita

Contoh begini, jika kita bercermin dengan raut wajah tersenyum, apa yang akan kita dapatkan dari cermin itu? Tepat! Wajah kita yang sedang tersenyum dan bila kita bercermin dengan raut wajah cemberut yang akan kita dapatkan dalam cermin adalah cemberut juga.

Sama dengan perlakuan kita ke orang lain, skala kecil saja. Yakni orang-orang dilingkungan kita. Saat bertemu disapa dengan santun, tersenyum, ucapkan salam. Apa yang kita dapatkan? Sama halnya dengan memperlakukan orang lain. Salam kita dibalas, dapat senyuman di pagi hari, ucapan yang santun. Kan elok? :')

Begitulah cara memperlakukan orang lain, bila kita baik orang lain akan memperlakukan kita baik. Bila kita jahat ke orang lain, orang itu juga akan jahat sama kita.

Dalam Islam pun, kita diajarkan adab pergaulan bukan?

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda.

“Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]

Lalu, siapa yang dapat kita contoh prilakunya? Artis? Aktor? Bukan!

Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, Rasulullah Salallahu 'alaihi wasalam.  taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :

“ Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]

Jadi, tanamkan sikap santun dalam diri kita, gunakan untuk bersosialisasi di kehidupan sehari-hari. :')

tiazsstory.blogspot.com

Selasa, 07 April 2015

Menjadi Pengantin Penuh Berkah

Bismillah...
Ketika ada wanita ditanya ingin pernikahan seperti apa, ia ingin sekali pernikahan megah di gedung yang mewah, baju pengantin yang berkilauan, diiringi arak arakan pengantin, makanan yang berjejer, hingga tamu undangan yang bahkan ia tak kenal pun hadir -_-".

Tapi disisi lain, tak sedikit wanita yang berharap pernikahan sederhana berbalut syar'i, terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan, tak ada musik berisik yang berdendang, bertempat dirumah sederhana, yang penting Allah ridha itu sudah cukup, jauh dari sarana untuk berfoya-foya. Tamu yang diundang dikenal atau bahkan ingin anak yatim merasakan kebahagiaan yang dirasakan si pengantin. Bukankah itu lebih indah?  Bahkan bila memang mampu, sisa uang walimahan bisa disumbangkannya untuk muslim di negara yang sedang membutuhkan kita, bukankah inilah yang seharusnya menjadi impian pengantin?

Yang penting Allah ridha, ingatkah kita dengan sifat zuhud luar biasa dari Rasulullah salallahu 'alaihi wasalam? Mungkin kita tak bisa 100% seperti beliau, tapi dialah sosok yang patut kita contoh.

Bukankah akan indah dan penuh berkah pernikahan itu? 

Duhai wanita, duhai para orang tua sederhanakanlah semuanya in syaa Allah lebih berkah, dan Allah akan hadir dalam pernikahan yang penuh dengan kesederhanaan bukan dalam kemewahan.

Semoga impian impian itu bisa terlaksana untukmu muslimah

Aamiin Allahumma Aamiin

 
Back To Top