TRENDING
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2021

SUPERWIFE (Buku Antologi)

   

 


    Assalamu'alaikum kawan tersayang, mari kuperkenalkan dengan anak keduaku. Sebelumnya aku ingin memberitahukan pada kalian, bahwa anak keduaku lahir tanpa rencana, hanya niat saja untuk membuatnya. terlahir di tengah hiruk pikuk keraguan dalam hati, apakah bisa aku melewati segala prosesnya tanpa rasa sakit, dan kecewa. Perlu kawan ketahui, bahwa kelahirannya adalah anugerah, dan berkah tersendiri buatku, kelahirannya membawa kembali diriku yang lama hilang, berkelana entah kemana.

            Aku bersyukur kepada mereka yang telah membantuku melewati semua proses, segala motivasi yang selalu datang dari kekasihku, tanpa ridhonya mungkin semuanya tidak akan terjadi, karena ridhonya sama dengan ridho Yang Maha Kuasa.

            Baik, tanpa butuh satu paragraf lagi aku perkenalkan, dan persembahkan anak keduaku, karya keduaku, masih dengan genre non fiksi, dan masih bersama menulis dalam tim (antologi), membagi kisah nano-nano dari para istri. Rasa nano-nao yang di kemas semenarik mungkin, membawa pembaca untuk terus membaca, merasakan kehadiran para penulis dalam setiap kisahnya, karena kisah mereka bisa jadi adalah kisahmu juga.

            Superwife hadir membawa kehangatan untuk para wanita, calon istri, istri dan bahkan calon ayah dan para ayah, untuk melihat dari berbagai sisi mengenai kehidupan wanita, setelah berstatus istri. Saat disayangkan, nyatanya tidak akan pembaca temukan tips pasti dalam buku ini, hanya kisah-kisah yang membawa inspirasi dan motivasi untuk melihat dunia istri yang semakin luas.

            Well, penasaran bagaimana isinya? Miliki segera SUPERWIFE Jilid 2, karya Tim Nulisyuk Batch 62.

           

 


Kamis, 14 Januari 2021

Bahan Puisi Lomba Baca Puisi HTR 2021

 


Assalamu'alaikum...

Salam Puisi!


Bismillah, jadi Bunda Helvytianarosa sedang ngadain event lomba puisi lagi nih, tapi puisinya yang sudah dipilih sama Bunda. Kapan ya terakhir baca puisi? Saat kuliah S1 dulu deh kayaknya itu juga semester 1-2 saj, duh kangennya kalau sudah baca semua puisi pilihan Buda rasanya jadi kembali ke masa putih abu-abu dulu.

Puisi puisi dibawah ini nggak berat untuk dibawakan, sangat mudah dipahami tapi dengan bahasa yang elegan bagus banget Masya Allah. Jangan lupa ikutan yah

 TANAH AIRKU PUISI
  
 Aku telah memilih puisi 
 sebagai tanah air
 tempat segala peristiwa 
 berbaris sebagai diksi
 tempat ragam masalah 
 gemakan rimarima
  
 Aku telah memilih puisi
 sebagai tanah air
 tempat menanam rindu
 serta luka paling raya
 tempat mengabadikan keindahan
 dan ketidakpastian
  
 Aku telah memilih puisi 
 sebagai tanah air
 tempat mata batin setia menyala
 sampai ke relungmu
  
 ( Depok, 2 April 2013)
  
  
  
 SELAMAT PAGI, KAMU
  
 Pada sebuah buku yang berbicara
 tentang masa depan, 
 aku melihat wajahmu menjelma pagi 
 yang terbit di tiap halaman 
 bersama asaku
  
 Aku dan kamu 
 telah dipersaudarakan oleh huruf dan kata
 paragraf juga bait
 kalimat-kalimat yang kadang 
 terlalu rumit untuk kita cerna
 tapi bermukim di batin
  
 Semangat pagi kamu 
 Yang terbit dan merekah dari sudut hati, 
 yang tersenyum serta menari 
 di sela sela imaji
 kamu menyelinap di jemari 
 sebagai sepi yang selalu ditangkap puisi
  
 Selamat pagi kamu yang menari 
 dan menanam cinta bersama Rumi 
 yang tak pernah percaya pada ilusi
 dan janji janji para politisi
  
 Setiap kali matahari terbit 
 berjanjilah pada diri 
 untuk tak membiarkan kebajikan 
 dikalahkan begitu saja di depan matamu
 Pada setiap matahari terbit 
 berjanjilah untuk bangkit 
 dan menebar cinta 
 di sepanjang jalan raya hidupmu
  
 Selamat pagi kamu,
 Semangat pagi, kamu!
  
 (Depok, Juli 2012)
  
  
  
  
 RAZAN
  
 Razan
 bagaimana aku memulai kisahmu
  
 Detak rindu yang tumbuh 
 dari bukit-bukit matamu 
 menyeruak jauh menembus dinding pulazi, 
 melewati perbatasan Gaza, Palestina
  
 Razan 
 kilau keberanian dan ketulusan 
 dua puluh satu tahun di jubah putihmu 
 telah memperpanjang napas cinta 
 dunia yang kian sekarat. 
 Adakah yang pernah kau lakukan 
 selama hidupmu, 
 selain menolong sesama?
  
 Tapi peluru para sniper zionis 
 tak pernah kenal wajah kemanusiaan 
 atau kebaikan. 
 Bengis  mereka bidik 
 bukan hanya jantung 
 para pejuang tanah airmu, 
 namun tanpa malu mereka bantai 
 para bocah, jurnalis, 
 atau relawan medis sepertimu
  
 Razan
 apa yang harus kuucapkan tentangmu? 
 Aku merasakanmu
  
 Ketika kau terkapar hari itu di Khan Younes, 
 aku menangis sesenggukan di kamarku
 Parau memanggil manggil namamu 
 dalam ketidakberdayaan, 
 sambil mengutuk penembak itu,  
 Netanyahu, Trump dan entah siapa
  
 Tiba tiba kucium aroma langit 
 para bidadari 
  
 Di sudut sepi, 
 puisi puisiku rebah berlumuran darah, 
 mendekap tubuhmu yang kesturi
  
 (Depok, 3 Juni , 2018)
  
  
  
  
  
 TAHUN BARU DI NEGERI TANPA SUARA
  
 Tahun baru tersungkur, 
  menangis di depan pintu rumahku
  Wajahnya memar, 
  dihajar petasan dan prasangka
  Tubuhnya limbung 
  dicekoki bersloki-sloki resolusi basi
   
  Bibirnya pucat tertutup rapat
  Dari matanya yang nyaris buta
  berjatuhan kata-kata
  Tolong, tolong! Hak asasi manusia, 
  demokrasi, keadilan, telah hilang
  diculik dari almanakku!
   
  Tapi kata jadi apa 
  tanpa nurani dan suara,
  sementara keran-keran kekuasaan 
  meluapkan drama-drama
  tanpa logika
   
  Telah bertahun lalu 
  kata-kata tak lagi gemuruh
  Ia jatuh sakit karena terlalu sering dibantai 
  dan dibungkam.
   
  Orang-orang menyeret mayatnya pagi ini
  bersama kisah-kisah serta puisi
  yang bergelimpangan,
  dan membusuk di kerongkonganmu
   
   
  
  
 LELAKI DALAM RINDU ABADIKU
  
 Suatu hari ia melintas dalam mimpiku. Aku mengejarnya 
 Ia melambaikan tangan, mengajakku bergegas 
 "Aku ingin melihatmu lebih jelas, Kekasih!" seruku, 
 "Aku ingin memelukmu!" Aku menangis
 Ia terus berjalan bersama awan yang tak henti menaunginya 
 Lalu sebuah suara indah terdengar, 
 "Setialah melangkah bersamaku di sabilillah"
  
 Aku terbangun, 
 tetapi lelaki itu tak pernah pergi dari denyutku 
 Sejak dahulu hingga kini tiap kata dan langkahnya  
 memantik cahaya di jiwa 
 Semesta menjalin asa dari keteduhannya 
 Bulan terbelah oleh kegagahan cintanya
  
 Aku tersaruk saruk menahan rasa yang kian buncah, 
 dari sunnah ke sunnah,  dari sirah ke sirah, dari shalawat ke shalawat 
 Di tiap gerak dan perjalanan rindu kusebut dan kusemat namanya: 
 Muhammad SAW Pahlawan utama,  Kekasih Sejati Ummat, 
 rindu abadiku hingga surga
  
 (Depok, April, 2013)
  
  
  
 SAFIA
  
 Aku bukan ratu, aku raja
 yang berpolitik lewat geliat sajak 
 dan cerita para sahaya
 kepedulian yang tak pernah selesai 
  
 karena cinta mereka tak terhingga 
 tiga puluh lima tahun aku memerintah 
 padahal para petinggi mengira
 aku tak akan pernah setara pria
 dan Darussalam Jaya tak akan niscaya 
  
 Akulah sultan yang dipanggil Sultanah 
 Safia yang tak kenal selesa masa
 setia menyelusuri tiap jejak
 memungut tiap perih 
 yang ditinggalkan rakyat 
 di beranda hari 
 Aku berjalan tanpa pengawal 
 ke tiap lembah
 sebagai perempuan biasa 
  
 kubuka pintu-pintu peradaban
 kutitahkan Nurrudin Ar-raniri, Abdul Rauf Singkel, 
 para ulama, untuk menulis cahaya
 kukirim para tokoh muda sekolah
 hingga Mekkah Madinah.
 Ilmu di pikiran di sanubari ditulis
 jadi kitab jadi nadi umat
 perpustakan negeri adalah firdaus 
 bagi kanak-kanak hingga para tetua
  
  
 Pada masaku diumumkan 40 Qanun 
 undang-undang kerajaan tentang keberadaan
 dan jumlah perempuan di parlemen
 sedang pasukan khusus wanita kami
 salah satu yang tercakap di dunia
 Penuh izzah kami tetapkan aturan berniaga 
 dengan Inggris, Portugis, Belanda dan lainnya 
 Pada masa itu, tak satu pun dari rakyatku 
 yang sudi mendapat zakat 
 sebab harta, ilmu dan cinta 
 berlimpah ruah di lumbung kami
 Maka zakat dan sedekah kami 
 sampai hingga Mekkah 
 dibawa ulama mereka Yusuf Al Qadri
  
 Aku Safiatuddin Syah Tajul Alam 
 Putri Sultan Iskandar Muda
 mereka memanggilku kemurnian iman, 
 mahkota dunia 
  
 Aku bukan ratu, aku raja
 yang berpolitik lewat geliat sajak 
 dan cerita para sahaya
 kepedulian yang tak pernah selesai 
 mengalir sampai kepala dan hati 
 ke denyut-denyut zamanmu.
  
  
 (Depok, 2 April, 2011)
  
  
  
  
 SEKIAN, UNTUK YANG KUKIRA CINTA
  
 “Aku tak mencintaimu,” katamu malam itu
 
 
 Aku terpelanting, terjerembab
 disergap ilusi dan diksi
 yang pernah berhamburan
 dari kedua matamu
 
 Tercekat, tergesa
 menuruni tangga tangga kisah
 yang telah susah payah kususun
 untuk sampai ke pelukanmu,
 yang semu
 Luka menjulur julurkan lidahnya
 menutupi pias cahaya bulan
 “Aku telah salah menafsir”
 
 Tertatih, kutanggalkan,
 kucampakkan jubah kenangan,
 kuletakkan wajahmu,
 tumpukan rindu, dan airmata
 di tempat yang tak akan pernah
 kusinggahi lagi

 Di jalan raya puisi puisiku
 berkecamuk, remuk,
 digilas mimpi buruk,
 dan sebuah akhir anyir
 tentang perempuan yang mati
 ditikam dongengnya sendiri
  
 (Maret, 2018)
  
  
  
 PUISI UNTUK SEORANG IBU YANG MENDOBRAK PULAZI
 (Untuk Yoyoh Yusroh)
  
  
 Seperti mendengar lagi namamu 
 dibawa angin ke berbagai benua
 berdenyar di nadi-nadi waktu
 Matahari yang leleh memahat langkahmu
 yang tak pernah lelah
 sebagai jejak cahaya
 pada musim-musim airmata dan darah
  
 Adakah ibu yang hidupnya tanpa istirah selama itu?
 Mendobrak pulazipulazi yang tumbuh dari kelaliman
 melipatnya dalam sapu tangan bunga 
 yang kau pakai
 untuk mengusap keringat kanak-kanak Palestina
  
 Hidup bagimu adalah mengabdi Illahi
 dan perjuangan membahagiakan sesama
 dari rumah tangga hingga ke tingkat dunia
 Tak seperti yang lain, politik adalah jalan
 yang kau luruskan sepenuh cinta
  
 Kau terus menebar maslahat, Ibu
 tanpa menghitung, tanpa hirau posisi di dunia
 namun kau, sering tak bisa pejamkan mata
 sebab resah memikirkan tempatmu kelak di akhirat 
 padahal engkau adalah orang yang selalu 
 bersandar pada Alquran
  
 Oh ibu Indonesia, ibu Palestina, Ibu segala benua 
 Kau embun yang menetes di lara dunia
 dalam ada dan tiada
 menjelma binar kekal 
 di pucuk-pucuk semesta cinta…
  
  
 (14 Agustus 2011)
  
  
  
  
 DI JURANG PUISI
  
 I
 Menampung rindu 
 dari hari ke haru,
 Menanggung resah yang berlarian
 hingga jantung,
 Jarum jarum hujan 
 menikam mata kita
  
 Katamu tak apa
 Karena duka cuma
 museum kebahagiaan
 yang retak dan pecah di dada kita
  
 II
 kita pun saling meninggalkan 
 menanggalkan semua kenangan 
 yang hinggap 
 dan meleleh di dahi musim
 sejak saat itu kutemukan diriku
 yang beku, terperangkap dalam kulkas
 berisi puluhan kilogram
 puisi puisi setengah jadi 
  
 III
 tanpa peta aku kembali ke sini:
 jalan raya yang terbuat dari parasmu
 Katakata canggung, waktu gugu
 Bagaimana kau menerjemahkan kekosongan? 
  
 IV
 Ini malam tak ada jejak 
 yang membaca cinta. 
 rindu siapa nganga 
 di jurang puisi? 
  
 (Februari 2013)
  
  
  
 NEGERI YANG TERBELAH
  
 Pikiran siapa yang bertubi-tubi dikebiri 
 dalam kata-kata yang api
 lalu kebenaran menjadi canggung, asing
 dan tak lagi mudah dikenali,             
  
 Nalar siapa yang digerus berulangkali
 ketika kebajikan dipersekusi
 Penjaga risalah difitnah dan didiskriminasi, 
 pencari keadilan berduyun-duyun jadi terdakwa
 dikunci di balik jeruji
 O, kaki hukum yang kian pincang dan rejang
 pemantik kebencian, para pendusta, koruptor, peneror
 di mana mereka kau semat?
 Sedang para penjilat 
 tumbuh sebagai musim semi 
  
 Kesalahan demi kesalahan diamini
 bahkan dirayakan secara terbuka
 di antara serpihan janji yang ditiup angin,
 dan diskusi purba 
 tentang melepas mereka 
 yang hilang ingatan ke bilik bilik suara,
 serta teriakan berisik kelompok picik 
 yang selalu mengaku paling toleran 
  
 Di sepanjang jalan itu kutemukan 
 tubuh-tubuh kita yang lama menyatu 
 terbelah pecah, ditebas entah apa  
 sementara orang orang tak dikenal 
 dari negeri antah berantah
 terus membanjiri tanah ini, 
 bermimpi jadi penghuni baru sebuah negeri 
 yang terus membelah dirinya sendiri
  
 (Jakarta, 2018)
  
  
                                                 
 KALAM
  
 Kalam manusia kalam kita
 sering sekali cuma debu di piranti waktu
 terkadang hanya jadi sajak kurus
 yang mengendap di kantong pilu
 atau menjelma merpati
 terbang telusuri angkasa
 hinggap di pokok-pokok
  
 Kalam kita
 sekali waktu jadi buah pikir
 dan bermilyar tulisan
 dengan satu masa pretensi
 berjalan, kembara pada satu kala
 satu peradaban
 kemudian samar, pupus 
 jadi bunyi senyap
 atau abadi
 dalam lukisan semu gagap
  
 Kalam mulia,kalam Allah
 kalam langit dan bumi
 diturunkan dari gemilang arsy, lauhul mahfuz
 keabadian yang mengatur segala
 bunga kata yang tak pernah berubah
 dengannya pelangi berwarna
 dan matari jadi panas
 dengannya air mengalir
 dan manusia bernapas
  
 tapi dengannya pula tanah kita
 bisa retak meratap
 gunung-gunung berhamburan
 dan manusia menjelma anai-anai
  
 dengannya akan terjaga
 ruh-ruh yang beriman
 di tiap lekuk liku kehidupan
  
 Kalamullah
 sesuci-suci kalam
 petunjuk cinta terpatri
 di sabil hamba terpilih
  
 (Depok 1992)
  
  
  
 BEGITULAH KISAH KITA MENUTUP MATA UNTUK SELAMA LAMANYA
  
 Aku akan bergegas meninggalkanmu, 
 semua jejak, bayangan, dan gurat kenangan itu 
 Tak akan ada pintu, jendela atau satu celah pun 
 untuk kembali. 
  
 Kita mungkin hanya akan melihat 
 satu sama lain dari jauh 
 sambil menyeduh secangkir kopi 
 berisi mimpi masing masing 
  
 Jalan kita adalah simpang empat 
 yang terlalu ramai oleh harapan 
 dan ucapan terimakasih  
 "Kau terlalu baik," katamu. 
 Tapi kau berpura tak tahu, 
 bahwa cinta selalu menjadi pembuka 
 bagi semua jalan kebaikan 
 yang terjal dan mendaki itu
  
 Di pelupuk mataku, seorang gadis, 
 bergelayut manja padamu 
 sambil melambai lambaikan hatinya 
 yang berwarna warni
  
 Malam yang bimbang, 
 berhenti mencumbu purnama 
 Di baris baris kidungmu, rindu tersengal sengal 
 diterjang kenyataan, 
 lari tertatih tatih, terkapar 
 dan bersembunyi 
 di halaman halaman novel, 
 cerpen dan puisi 
  
 Begitulah kisah kita menutup mata 
 untuk selama lamanya.
  
 (Depok, 18 Agustus 2016)

Rabu, 13 Januari 2021

Jl. Masih Panjang (Part 1)

 




 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 Bismillahirohmanirohim, hi my dearest friends how are you? i hope you always healthy and happy. It's been a long time sinced my last blog i think. Sorry, begitu banyak onak dan duri dalam menulis. But now, i want to share my Hijrah yang juga penuh onak dan duri. 

2012

 Tahun dimana titik balik perjalanan hidup mulai kurasakan, seiring bertambahnya usia makin bertambah pula ujiannya, awalnya lebih cuek mulai banyak memikirkan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan, kesalahan apa yang sudah merenggut imanku menjauh dari hati? 

 Iya, saat itu saya masih gadis pada umumnya berjilbab seleher saja, masih bercelana ke kampus kemanapun saat halaqoh wajin dari kampus saja saya pakai rok. Berbagai masalah datang dan berbagai sahabat karena iman pun datang menyadarkan. 

 Saat itu usiaku masih 20 tahun, sedang sibuk-sibuknya praktik RS dan Skripsi. Tapi, saya sama sekali tidak merasakan kesusahan dalam hal itu, namun tetap saja hati ini cemas, mungkin karena dosaku.

 Sayangnya saya tidak bisa cerita masalah yang membuat saya berpikir kembali arti nafas gratis yang Allah berikan, cukup Allah yang mengetahui dan menyembunyikannya. Sungguh saat itu Allah sayang banget hingga mengirimkan orang-orang baik dikala masalah datang. 

 Pernah suatu malam saya menangis sejadi jadinya, menangis begitu dalam menangisi betapa Allah merindukan doa doa ku, merindukan sujud ku, merindukan lantunan ayat suci yang keluar dari lisanku, merindukanku. Ya, saya pun merindukanNya sangat amat, belum pernah dalam hidup serindu ini pada Kekasih Hati.

 Hari demi hari kupakai untuk merenungi semua dosa, semua khilaf yang Allah selalu sembunyikan dari teman temanku, keluargaku, Sunggu betapa Allah mencintaiku dan saya pun harus membalas cintaNya dengan berHIJRAH.

 Pernah dengar lagu Muhasabah Cinta dan Sendiri Menyepi dari Edcoustic lagu ini pun membantuku mengingatnya, betapa banyak nikmat yang Allah berikan tapi tak satupun saya membalasnya. Sedih? Sedih karena semakin bertambahnya usia maka makin dekat pula ajalku, itu berarti waktuku menipis untuk memohon ampun.

 Tahun dimana saya pun mulai merubah penampilanku, merubah total pakaianku bahkan caraku memandang setiap masalah dan menilai orang orang yang mampu membawaku dalam keimanan.

 Belum, saya belum langsung sempurna. Masih belajar di level 1 dalam berpakaian, teman sekelas pun mayoritas kaget dengan perubahanku, iya kelas itu masih hedonis hanya beberapa orang saja memang yang sudah lebih dulu berhijrah. Tentu saja saya mendapatkan ucapan ucapan bernada menghina akan perubahan penampilanku.

 Perempuan jika sudah berhijrah hal utama yang paling terlihat adalah penampilannya bukan? Mereka menghinaku secara terang terangan, ah! Masih sangat teringat jelas hingga saat saya menulis ini "Jilbab apa yang kau pakai? Bukan taplak meja kan?" saya tidak bisa membalasnya hanya senyum saja yang terlihat dalam diwajahku, meski kalian tahu? Saya menangisinya.

 Watak perempuan sesuai ciptaanNya penuh dengan kelembutan, maka ketika ada yang menghina dirinya karena mendekatkan diri pada Rabbnya pecah pula tangisannya di sepertiga malam tapi setelah itu saya kembali ceria, saya tahu karena membacanya dari buku para Sahabat Perempuan di Zaman Nabi, cobaanku ketika berhijrah belum ada apa apanya maka Sabr membuat saya makin dekat denganNya. 

 Tentu saja saya tidak berusaha berubah seorang diri, saya butuh teman menuju keimanan, butuh pembimbing untuk bertanya hal apa saja yang bisa mendekatkanku dengan CintaNya dan Masya Allah sambutannya luar biasa. Saya tidak akan melupakan jasa salah seorang teman sekelasku yang mengarahkan ke dalam halaqoh halaqoh yang tersebar di kampus, banyak ternyata tapi selama ini saya buta dengan maksiat sehingga yang halal tampak menjijikan dimataku Astagfirullah. 

2013

 Saat itu usiaku 21 tahun menuju sidang skripsi untuk meraih gelar sarjanaku di salah satu universitas swasta di Sukoharjo (mungkin teman teman ada yang tahu yah) saya semakin mantap menuju ke jalan yang Allah ridho alhamdulillah. 

 Jika ditanya apa tidak ada godaan? Banyak, selama masih bernafas selama itu pula hawa nafsu terus ada, terlebih lagi ujian dari keluarga, orangtua. Saya sudah dengar hal yang paling sulit ketika kita memutuskan berhijrah adalah menghadapi penilaian orang tua kandung. 


Bersambung...

Selasa, 29 Maret 2016

Cause you're Strong


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang dusta (munafik)."

Hmmmm, surat ini Surat Al-Ankabut, surat ke 29 di ayat 2 dan 3, saat hati lemah, iman sedang goyah ketika ujian yang Allah berikan berdatangan secara serempak dan tak mengenal waktu saya selalu coba mengingat ayat ini. Selalu... Ayat ini saya dapat ketika saya bertanya kepadaNya ketika saya mulai mengenal kembali siapa itu Yang Maha Esa

"Ya Allah, apakah harus saya? Kenapa harus saya ya Allah? Kenapa engkau pilih hambaMu yang lemah ini? Kenapa bukan orang lain? Kenapa saya berbeda? Kenapa Engkau berikan kpd ku? Kenapa ya Allah?"

Tak mendapatkan jawaban, lantas sy bertanya kepada teman di Klaten, bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan Allah secara langsung? Dia menyarankan, buka Qur'an secara acak dan ayat pertama yang terbaca maka itu JawabanNYA

Surat ini, adalah surat pertama yang melekat di hati, bukan karena hafalan tapi makna terdalam. Makna yang begitu berakar untuk menemani hijrah, menguatkan iman!

Ibarat sekolah, ketika kita akan naik kelas kita akan menghadapi ujian, semakin tinggi, semakin berat pula ujiannya. SD ke SMP, lalu ke SMA kemudian kuliah. Semuanya kita lalui dgn ujian. Hanya kita tak peka bahwa trnyta kita sdg naik level.

Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam pernah ditanya oleh Sa'ad bin Abi Waqqas

"Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)

Sama halnya dengan iman, Allah membedakan ummatnya dengan ujian, membedakan mana yang beriman dan mana yang tidak. Seperti dalan surat Ali Imran ayat 186, Allah berfirman

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan"

Sabar dan takwa adalah kunci problem solving (pemecahan masalah) berat atau tidak kunci jawabannya tetap sama "sabar dan takwa" inilah yang membedakan org beriman dan tidak.

Namun perlu kita ingat bahwa seberat beratnya ujian yang Allah berikan kepada manusia setelah Rasulullah dan para sahabat, tak ada apa apanya. Ujian kita hanya ujian 1:1jt beratnya. Begitu ringan, seperti kapas, tertiup angin dengan mudah dia melayang.

“Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya, baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya.” (H.R Bukhari)

Jadi tak ada alasan untuk kita merasa sedih, putus asa, menyerah, hingga berlarut larut. Allah tak suka hal itu. Sedih hal yang lumrah setelah itu bangkitlah.

Karena, Hei! Kita lah orang orang yang dipilih Allah untuk naik ke level lebih tinggi dengan hadiah kelulusan berupa rumah...,

Bukan, bukan sekedar rumah, lebih dari itu, Istana di Surga.

By: Ocnatias Eka Saputri, hamba yang lemah
IG: @tiasekaputri
IG My Outfit: @oescollection

Senin, 07 Maret 2016

Wa laa taqrabu zina

“Wa laa taqrabu zinaa …”

“Jangan dekati zina …” (QS Al Isra: 32)

Dear shalihah,
Pernah dengar ayat di atas?
Harusnya sih pernah yah, atau kamu malah anti dengan ayat tersebut?

Lumrah ketika kita mencintai seseorang, sangat lumrah karena Allah yang memberi rasa itu. Apakah cinta itu bisa hadir ke aktivis dakwah? Oh sangat bisa, sangat bisa sekali.

Ketika makan ada dia, ketika mau tidur ada dia, BAHKAN Ketika tilawah lembar demi lembar dibuka selalu ada dia.

Ini cinta, bahkan saat berdoa pun dengan sadar kita mendoakannya.

Sangat lumrah seperti itu, apakah tidak boleh? Apakah salah? Boleh dan tidak salah wallahu a'lam yang salah dan yang tidak boleh ketika rasa itu berlarut larut, membuat kita malas beribadah, membuat kita jatuh ke lubang maksiat.

Begini, Allah bukan melarang kita berzina, tidak ada ayat yang menjelaskan hal tersebut. Namun Allah melarang kita mendekat zina. Jangankan berbuat zina, MENDEKATI saja Allah sudah larang. Tandanya apa? Allah Maha Pecemburu. Ketika ada makhluknya lebih memilih dunia daripada akhirat, ketika lebih menjauh dari Allah saat mendapat kekayaan, ketika cinta kita lebih besar terhadap makhlukNya daripada kepada Allah, dan ketika kita mendekati zina dengan dia atau mereka yang bukan mahrom kita.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR Muslim)

Bagaimana dengan pemuda sekarang? Pacaran dengan bukan suaminya menjadi hal lumrah. Atau ada sekarang yah pacaran syariah. Biasanya terjadi dikalangan aktivis dakwah nih. Setan bukan lagi mengejar perihal aqidah, perihal tauhid BUKAN, setan mengincar akhlaq.

"Saya nggak pegangan tangan kok Mbak"

"Saya kan hanya sms jangan lupa sholat yaa akhi"

"Saya kan hanya di ajak ke kajian bareng Mbak"

"Kami hanya saling mengingatkan sholat kok Mbak"

Wahai shalihah, sekali lagi Allah melarang kita mendekati zina!

Nanti lama lama

"Ana uhibukifillah yaa ukhti/akhi"

Modus wahai muslimah!

Apa lantas kita pikir setan tidak cerdik? Setan itu pintar, dia mengusik melalui aliran darah kita. Untuk itu kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa, karena ketika berpuasa aliran darah kita menyempit. Nafsu bisa teralihkan.

Laki laki yang baik tak akan mungkin mendekatimu sebelum mendekati orangtuamu. Laki laki yang baik bukan mencari perhatianmu, namun mencari perhatian bapakmu. Laki laki yang baik tidak berpacaran denganmu tapi berpacaran dengan orang tuamu. Laki laki yang baik datang ke rumahmu bukan mengajak untuk berpacaran, namun mengajakmu untuk menikah melalui bapakmu.

Bagaimana? Siapa menjaga hati hanya untuk dia suamimu? Good Luck shalihah!

Wallahu a'lam
IG @oescollection
WA +6285729530070 (fast)
Menyediakan pakaian syar'i casual, wisuda dan walimah :)

Rabu, 02 September 2015

Kita Menyebutnya Wanita Kuno



Jika wanita kuno disematkan pada seorang ibu yang hanya di rumah, mengurus keluarga, mengurus anak, mengurus usahanya saja di rumah. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu ibu kita dulu, yang rela lepasin gelar sarjana, nurut suami. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu yang lebih dahulu bangun sebelum orang lain terbangun, akan tidur ketika semua orang sudah tertidur. Mereka memang kuno

Jika wanita kuno adalah ibu ibu yang selalu bersyukur, atas apapun pemberian suaminya. Mereka memang kuno
Jika wanita kuno adalah ibu yang menghasilkan seorang anak ditahun tahun 2000 kebelakang dan sekarang si anak menjadi seorang presiden, guru besar, penemu, pencentus, milyarder, pengusaha besar, dan tokoh tokoh ulama yang namanya harum. Maka wanita itu memang kuno

Wanita itu memang kuno, tidak mementingkan karirnya, tidak mementingkan egonya, tidak mementingkan gengsinya, fokus utama adalah keluarga

Bagaimana dengan para ibu di zaman milenium?

Wanita modern dengan gelar sederet, menitipkan anak anaknya di tempat penitipan anak saat kerja, meninggalkan anaknya bersama sang nenek demi mengejar gelarnya, melepaskan perkembangan anaknya pada orang lain, dan sifat 'meninggalkan' lainnya. Oh ibu, sungguh hebat. Modern

Apakah akan ada penemu lagi ditangan seorang ibu yang mementingkan egonya?

Apakah akan ada lagi ilmuwan ternnama ditangan seorang ibu, yang tega meninggalkan buah hatinya ditangan orang lain?

Akan jadi apa anak kita nanti? Akan jadi apa masa depannya?

Ingin lihat masa depan anak kita seperti apa? Bisa, lihatlah pola asuh yang kita berikan selama ini

Wanita kuno jauh lebih berharga, dari pada wanita modern dengan gengsi di hatinya.

Jumat, 15 Mei 2015

Saudariku, Kembalilah...

Ah sudah lah, sungguh...
Aku cinta kepolosan itu, keluguan itu, kesederhanaan itu, aku rindu... merindukannya.

Disaat aku tak ingin mengenal lebih dekat dengan dunia, tak akan ada rasa iri, cemburu, dengki, bahkan gengsi yang berlebihan.

Membuat lupa dan melupakan lugunya diri. Kesederhanaan yang membuat Allah lebih suka, lebih sayang, lebih cinta kepada hamba-Nya.

Aku terpana, tercengang pada bius dunia yang membuat si pecandunya merasakan terbang, memiliki sayap dan berkata "Hallooooo ini, aku ada sedang di hadapanmu. Lihatlah! " 

Hilang sudah, hilang. Ketika beberapa tahun sebelumnya aku mulai melihatmu dengan balutan syar'i dalam akun facebookmu dan aku ingin memanggil dan belajar darimu yang lebih dahulu hijrah, "Ukhty... maukah mengajariku menggunakan hijab seperti yang kau kenakan? Bagaimana caranya aku bisa sepertimu?" tapi saat itu aku tak berani.

Setelahnya benar aku merasa kehilangan, dirimu tak lagi sama. Kesederhanaan tanpa riasan wajah itu hilang diganti dengan sekelebat riasan arogan, itu bagiku saat melihatmu sekarang.

Arogansi dengan penuh gengsi itu muncul, kau bukan yang dulu yang membuatku terpana dan tercengang. "Kemana dirimu duhai ukhty nan shalihah... Kemana kau pergi? Tak ingin kah kau kembali dalam wujud sederhana seperti saat aku melihat busana syar'i mu?"

Goyah memang goyah, ketika hati sudah terbius ujian ujian mewah dunia. Tak ada satupun manusia yang menyatakan dirinya beriman tanpa di uji, meski ulama besar sekalipun. Apalagi kamu, aku yang tak ada apa-apanya.

Duhai saudariku tersayang, lihatlah ada banyak sahabat shalihah yang menantikan mu kembali, bersama dalam keanggunan syar'i yang jauh lebih sederhana dan indah.

Ingat, bagaimana Allah beri kenikmatan ibadah, kenikmatan saat kau benar-benar dekat dengan-Nya pada masa itu. Bertanyalah kembali pada hatimu, apa yang sedang kau rasakan? Tak rindukah kau pada masa indah itu? 

Aku rindu, kami rindu keanggunan dirimu dalam memahami al-haq.

Saudariku, kembalilah...

Saudarimu, yang merindu karena Allah
Ocnatias Eka Saputri

Selasa, 07 April 2015

Menjadi Pengantin Penuh Berkah

Bismillah...
Ketika ada wanita ditanya ingin pernikahan seperti apa, ia ingin sekali pernikahan megah di gedung yang mewah, baju pengantin yang berkilauan, diiringi arak arakan pengantin, makanan yang berjejer, hingga tamu undangan yang bahkan ia tak kenal pun hadir -_-".

Tapi disisi lain, tak sedikit wanita yang berharap pernikahan sederhana berbalut syar'i, terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan, tak ada musik berisik yang berdendang, bertempat dirumah sederhana, yang penting Allah ridha itu sudah cukup, jauh dari sarana untuk berfoya-foya. Tamu yang diundang dikenal atau bahkan ingin anak yatim merasakan kebahagiaan yang dirasakan si pengantin. Bukankah itu lebih indah?  Bahkan bila memang mampu, sisa uang walimahan bisa disumbangkannya untuk muslim di negara yang sedang membutuhkan kita, bukankah inilah yang seharusnya menjadi impian pengantin?

Yang penting Allah ridha, ingatkah kita dengan sifat zuhud luar biasa dari Rasulullah salallahu 'alaihi wasalam? Mungkin kita tak bisa 100% seperti beliau, tapi dialah sosok yang patut kita contoh.

Bukankah akan indah dan penuh berkah pernikahan itu? 

Duhai wanita, duhai para orang tua sederhanakanlah semuanya in syaa Allah lebih berkah, dan Allah akan hadir dalam pernikahan yang penuh dengan kesederhanaan bukan dalam kemewahan.

Semoga impian impian itu bisa terlaksana untukmu muslimah

Aamiin Allahumma Aamiin

 
Back To Top